[Resensi?] En Man som Heter Ove.

aka “A MAN CALLED OVE

Pengarang: Fredrick Backman
Judul Asli: En Man som Heter Ove (Swedia)
ISBN: 978-602-385-023-5
Rilis: Januari 2016
Hlm: 440
Penerbit: Noura Books (an imprint of PT. Mizan Publika)
Bahasa: Indonesia
Alih bahasa: Ingrid Nimpoeno
Harga: Rp 79.000

Ove hitam-putih.
Sonja berwarna-warni.

Ove selalu tepat waktu.
Sonja selalu terlambat.

Ove tidak menyukai kucing.
Sonja mencintainya.

Ove selalu menjawab.
Sonja selalu memimpin percakapan.

Ove tidak lulus sekolah.
Sonja, guru dari anak-anak bermasalah.

Ove membuat rak buku.
Sonja paling suka membaca dibandingkan segala hal lainnya.

Ove masih berusaha mengejar Sonja,
Sonja sudah pergi lebih dahulu.

Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam-putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove. ~ hlm. 62

Apa kalian pernah begitu mencintai seseorang–atau bahkan sesuatu begitu dalam? Sehingga ketika yang kau cintai itu sudah tidak memiliki raga di dunia ini, kau merasa tidak hidup lagi?

Itu yang terjadi pada diri Ove (yang bahkan hingga akhir buku tidak diberitahukan nama tengah dan nama keluarganya–begitu pula dengan ayah dan ibu Ove) setelah ditinggal oleh istrinya, Sonja–salah satu yang paling dicintai Ove di dunia ini; kebenaran, mobil Saab, dan Sonja (dan sebelum bertemu Sonja, Ove mencintai angka, bersama mobil Saabnya dia juga memiliki arlogi tua penyok peninggalan ayahnya yang membuatnya menjadi pria yang tidak akan ditindas).

Istrinya sering berkata bahwa, ” semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu.” Dan bagi perempuan itu, mungkin takdir adalah sesuatu. Namun bagi Ove, takdir adalah seseorang. ~ hlm. 107

Lelaki bernama Ove ini sangatlah tempramental, sangat menjunjung kebenaran, memegang teguh prinsipnya–tidak pernah terlambat, bekerja di satu bidang selama sepertiga abad sebelum akhirnya dipaksa pensiun, dan orang-orang jaman sekarang memanggil orang-orang seperti Ove ini sebagai orang yang kolot. Dia merupakan lelaki tua yang memiliki salah satu dari rumah bandar, yang kini telah ‘dijajah’ oleh para pengurus properti yang menginginkan untuk membangun rumah serupa yang lebih banyak lagi.

Adanya Ove di lingkungan itu, walau telah digulingkan dari posisinya sebagai Ketua Asosiasi Warga, dia tetap melakukan rutinitasnya, salah satunya adalah melakukan inspeksi sekeliling kompleknya, memperbaiki–atau melempar segala yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungannya. Ove lahir dari generasi di mana orang dinilai dari tindakannya, bukan dari apa yang diucapkan, dan Ove yakin bahwa segala sesuatunya harus berfungsi sebagaimana seharusnya. Ove merupakan orang yang fungsional . Setelah inspeksi, rutinitas yang selalu dilakukannya adalah memasuki toko bunga, membeli tanaman bunga berwarna dadu dan menanamnya di depan nisan istrinya.

“Aku merindukanmu,” bisiknya.

“Kau makhluk terlucu yang dikenalnya. Itulah sebabnya dia selalu menggambarmu berwarna-warni,” kata Parvaneh. ~ hlm. 279

Blurb:
Kau tidak mau berurusan dengan lelaki semacam Ove.
Lelaki temperamental yang telah menjadi yatim piatu di usia belasannya ini selalu melakukan semuanya sesuai peraturan, menyimpan segalanya di tempatnya–kecuali untuk rumahnya yang berantakan.
Namun Sonja, seorang wanita pintar dan cantik dengan ayahnya yang penyendiri, tidak hanya mau berurusan dengan Ove, dia bersedia untuk menemani Ove hingga ajal menjemputnya. Karena ketika Sonja menatap Ove untuk pertama kali, dia merasa bahwa di mata Ove tidak ada perempuan lain selain dirinya.
Dengan itu, Sonja menjadi salah satu yang paling disayangi Ove di dunia ini; selain mobil Saab-nya dan kebenaran.

Dia belum pernah bersikap spontan di sepanjang hidupnya. Namun ketika melihat perempuan itu, rasanya seakan ada sesuatu yang gagal berfungsi. ~ hlm. 170

~

“Istri-istri lain merasa jengkel karena suami mereka tidak memperhatikan ketika mereka baru memotong rambut. Ketika aku memotong rambut, suamiku merasa jengkel terhadapku selama berhari-hari, karena aku tidak tampak sama.” Itulah yang dulu suka dikatakan Sonja. ~ hlm. 342

Aku suka buku ini.
Aku. Suka. Banget. Buku. Ini!
Untuk menuliskan resensi ini, aku benar-benar harus menenangkan diriku sendiri. Bahkan di goodreads aku tidak bisa menulis sesuatu yang lebih penting dan lebih berguna dari pada “aku suka buku ini,” karena masih terlalu emosional setelah membacanya.
Buku ini benar-benar mengandung segalanya, mengenai nilai-nilai yang ada di dunia.
Prinsip. Banyak orang sekarang sudah tidak memiliki prinsip, mereka hanya mengikuti air yang mengalir. Orang-orang yang memiliki idealisme itu banyak, tapi banyak juga yang tidak didampingi dengan prinsip.
Teguh pada pendirian. Romantisme terhadap masa lalu. Setia. Kekeluargaan. Persaudaraan. Setia. Perhatian dari orang asing. Persahabatan. Setia. Pembalasan dendam. Menghadapi sesuatu yang baru. Percobaan pembunuhan. Setia. Setia…
Apa aku terus mengulang kata setia? Karena menurutku itu adalah nilai yang paling dominan dari novel ini; baik antar kekasih, tetangga, sahabat.
Oh. Aku selalu hendak menangis bila mengingat buku ini.

Menurut orang lain, buku ini hampir mirip dengan The 100-Year-Old-Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared karya Jonas Jonasson yang sama-sama berasal dari Swedia–tapi karena buku itu masih ada di list TBR-ku, maka aku tak bisa mengatakan apa-apa.

Tapi meskipun kau belum baca buku The 100-Year-Old-Man itu, lupakan. Kalian bisa baca A Man Called Ove langsung.

Ralat. Kalian harus baca buku ini.

Kalian penasaran dengan buku ini kan? Dengan adanya bukupedia.com/amancalledove kalian bisa langsung membelinya dengan mudah, guys! Just in one click 😉

Namun, jika ada yang bertanya, Ove akan menjawab bahwa dia tidak pernah hidup sebelum bertemu perempuan itu. Juga, setelah perempuan itu tiada. ~ hlm. 182

Regards,
A.P.S.

P.S. Pada tiga bulan yang lalu, tepatnya pada saat natal, December 25, 2015, buku ini sudah di adaptasi menjadi film dan sama seperti bukunya, film ini pun sukses besar di negara asalnya! Check out:

P.S.S. And you know? I became curious about Saab!