[Resensi?] The Young Elite

Pengarang: Marie Lu
Judul Asli: The Young Elites (AS)
ISBN: 978-979-433-909-1
Terbit/Rilis:  2016
Penerbit: Mizan Fantasi
Translated to: Indonesia
Harga: Rp 75.000

Kesan terakhir dari membaca ini adalah kisah distopia yang sangat berbeda dari yang lainnya. Mungkin karena saya sudah mempunyai feeling bagus mengenai buku ini terbit (bahkan sebelum terbit. Saya sudah lihat-lihat foto buku ini dari para bookstagram and ‘so dying to read it’), saya langsung jingkrak-jingkrak begitu diterbitkan ke bahasa kita (begitu pula dengan novel A Tale of Two Cities(!) tapi sayangnya karena satu dan lain halnya yang tidak penting tapi menuntut perhatian saya, sampai saat ini saya belum membelinya *ya, saya penganut ajaran untuk memiliki buku yang benar-benar saya inginkan untuk dibaca*).

Biar saya beri spoiler sedikit, ini adalah kisah tentang pembunuh. The killer.
(Spoiler tapi tidak disembunyikan? Ya, saya memang kejam)
Saya selalu mengalami kesulitan setiap hendak membuat blurb buku (oleh karena itu biasanya saya suka malas, tapi karena ini review untuk di blog maka saya harus berusaha), dan usaha saya akhirnya seperti di bawah ini: (dan saya mencoba dengan keras untuk tidak spoiler!–lagi).

Sepanjang hidup Adelina Amouteru, dia selalu menginginkan kasih ayah kandungnya. Namun setelah sang ibu meninggal dunia karena wabah berdarah yang menyerang rumahnya, ayahnya berubah. Hanya adiknya yang cantik dan manis yang diberi perhatian khusus oleh ayahnya–yang tidak mendapat peninggalan dari wabah berdarah. Sedangkan Adelina mendapatkan mata kiri yang menjadi buta dan perubahan warna rambutnya menjadi perak. Saat ketika ayahnya sudah menyerah terhadap Adelina, dia mencoba menjual anak sulungnya tersebut. Adelina mendengar mengenai hal itu dan mencoba kabur dari rumah–dan mendapati bahwa ia menjadi apa yang sebenarnya diinginkan oleh ayahnya, memiliki kekuatan khusus–seorang malfetto atau yang memiliki banyak julukan, salah satunya The Young Elites. Namun begitu mengetahuinya, ayahnya mati.
Adelina yang baru pertama kali mengeluarkan kekuatannya, tidak berhasil melarikan diri dari pasukan khusus kerajaan yang bertugas membasmi malfetto karena dianggap berbahaya bagi manusia normal.
Adelina tidak mati karena dia berhasil diselamatkan oleh perkumpulan Dagger Society yang dipimpin oleh lelaki tampan bernama Enzo. Mereka memiliki tujuan untuk menggulingkan kerajaan dan membuat malfetto dapat hidup bebas layaknya orang normal tanpa harus khawatir diburu untuk dibunuh.
Adelina hanya tinggal memilih; bergabung dan menuruti kata-kata Enzo dan Dagger Society atau terus menghindari kerajaan dan kematian menjadi sesuatu yang pasti; memilih mengkhianati Dagger Society yang telah mengajarkannya mengendalikan kekuatannya, atau mengkhianati adiknya ketika rahasia kecil adiknya itu terungkap?

And that’s it. Apakah kalian mengerti? Apakah kalian jadi penasaran? Kalau ya, berarti aku berhasil membuat blurb-nya. Kalau tidak, kalian bilang? Yah aku masih berlatih, guys. (Btw, kalian boleh caci maki di komentar di bawah post ini dan katakan apa yang kalian rasakan tapi dengan bahasa sopan ya, terima kasih!)

Well, balik lagi. The Young Elite mendapat bungkukan hormat dariku. Buku ini berbeda dari genre dystopia lainnya, heroine yang penakut namun berani, heroine yang cacat, heroine yang tersingkirkan, heroine yang pembunuh… namun sama seperti yang lain, heroine adalah sosok istimewa yang akan membawa perubahan pada negaranya.

Aku sangat menantikan Rose Society (apakah kalian mau spoiler lagi? *smirk.

Itu adalah… *aku di teriakin dari belakang, jadi ok, aku tidak akan spoiler lagi), buku kedua dan aku sangat sangat sangat sangaaattt menantikannya! Tapi aku yakin akan lama sekali sebelum terbit 😦
Apakah perasaanku akan sama dengan buku pertamanya? Semoga tetap dan bertambah. Amin.

5 stars!

N.B. Sayang aku keburu mengembalikan buku ini dan aku lupa menuliskan quotes dari novel ini. Tapi aku begitu menikmati cerita ini hingga aku hanya sedikit menyadari kata-kata yang bagus untuk dituliskan di sini, dan begitu membaca paragraf setelahnya, hal itu menjadi tidak penting lagi. Aku tidak menyadarinya karena aku begitu menikmatinya! If you get it.

Advertisements

[Resensi?] En Man som Heter Ove.

aka “A MAN CALLED OVE

Pengarang: Fredrick Backman
Judul Asli: En Man som Heter Ove (Swedia)
ISBN: 978-602-385-023-5
Rilis: Januari 2016
Hlm: 440
Penerbit: Noura Books (an imprint of PT. Mizan Publika)
Bahasa: Indonesia
Alih bahasa: Ingrid Nimpoeno
Harga: Rp 79.000

Ove hitam-putih.
Sonja berwarna-warni.

Ove selalu tepat waktu.
Sonja selalu terlambat.

Ove tidak menyukai kucing.
Sonja mencintainya.

Ove selalu menjawab.
Sonja selalu memimpin percakapan.

Ove tidak lulus sekolah.
Sonja, guru dari anak-anak bermasalah.

Ove membuat rak buku.
Sonja paling suka membaca dibandingkan segala hal lainnya.

Ove masih berusaha mengejar Sonja,
Sonja sudah pergi lebih dahulu.

Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam-putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove. ~ hlm. 62

Apa kalian pernah begitu mencintai seseorang–atau bahkan sesuatu begitu dalam? Sehingga ketika yang kau cintai itu sudah tidak memiliki raga di dunia ini, kau merasa tidak hidup lagi?

Itu yang terjadi pada diri Ove (yang bahkan hingga akhir buku tidak diberitahukan nama tengah dan nama keluarganya–begitu pula dengan ayah dan ibu Ove) setelah ditinggal oleh istrinya, Sonja–salah satu yang paling dicintai Ove di dunia ini; kebenaran, mobil Saab, dan Sonja (dan sebelum bertemu Sonja, Ove mencintai angka, bersama mobil Saabnya dia juga memiliki arlogi tua penyok peninggalan ayahnya yang membuatnya menjadi pria yang tidak akan ditindas).

Istrinya sering berkata bahwa, ” semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu.” Dan bagi perempuan itu, mungkin takdir adalah sesuatu. Namun bagi Ove, takdir adalah seseorang. ~ hlm. 107

Lelaki bernama Ove ini sangatlah tempramental, sangat menjunjung kebenaran, memegang teguh prinsipnya–tidak pernah terlambat, bekerja di satu bidang selama sepertiga abad sebelum akhirnya dipaksa pensiun, dan orang-orang jaman sekarang memanggil orang-orang seperti Ove ini sebagai orang yang kolot. Dia merupakan lelaki tua yang memiliki salah satu dari rumah bandar, yang kini telah ‘dijajah’ oleh para pengurus properti yang menginginkan untuk membangun rumah serupa yang lebih banyak lagi.

Adanya Ove di lingkungan itu, walau telah digulingkan dari posisinya sebagai Ketua Asosiasi Warga, dia tetap melakukan rutinitasnya, salah satunya adalah melakukan inspeksi sekeliling kompleknya, memperbaiki–atau melempar segala yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungannya. Ove lahir dari generasi di mana orang dinilai dari tindakannya, bukan dari apa yang diucapkan, dan Ove yakin bahwa segala sesuatunya harus berfungsi sebagaimana seharusnya. Ove merupakan orang yang fungsional . Setelah inspeksi, rutinitas yang selalu dilakukannya adalah memasuki toko bunga, membeli tanaman bunga berwarna dadu dan menanamnya di depan nisan istrinya.

“Aku merindukanmu,” bisiknya.

“Kau makhluk terlucu yang dikenalnya. Itulah sebabnya dia selalu menggambarmu berwarna-warni,” kata Parvaneh. ~ hlm. 279

Blurb:
Kau tidak mau berurusan dengan lelaki semacam Ove.
Lelaki temperamental yang telah menjadi yatim piatu di usia belasannya ini selalu melakukan semuanya sesuai peraturan, menyimpan segalanya di tempatnya–kecuali untuk rumahnya yang berantakan.
Namun Sonja, seorang wanita pintar dan cantik dengan ayahnya yang penyendiri, tidak hanya mau berurusan dengan Ove, dia bersedia untuk menemani Ove hingga ajal menjemputnya. Karena ketika Sonja menatap Ove untuk pertama kali, dia merasa bahwa di mata Ove tidak ada perempuan lain selain dirinya.
Dengan itu, Sonja menjadi salah satu yang paling disayangi Ove di dunia ini; selain mobil Saab-nya dan kebenaran.

Dia belum pernah bersikap spontan di sepanjang hidupnya. Namun ketika melihat perempuan itu, rasanya seakan ada sesuatu yang gagal berfungsi. ~ hlm. 170

~

“Istri-istri lain merasa jengkel karena suami mereka tidak memperhatikan ketika mereka baru memotong rambut. Ketika aku memotong rambut, suamiku merasa jengkel terhadapku selama berhari-hari, karena aku tidak tampak sama.” Itulah yang dulu suka dikatakan Sonja. ~ hlm. 342

Aku suka buku ini.
Aku. Suka. Banget. Buku. Ini!
Untuk menuliskan resensi ini, aku benar-benar harus menenangkan diriku sendiri. Bahkan di goodreads aku tidak bisa menulis sesuatu yang lebih penting dan lebih berguna dari pada “aku suka buku ini,” karena masih terlalu emosional setelah membacanya.
Buku ini benar-benar mengandung segalanya, mengenai nilai-nilai yang ada di dunia.
Prinsip. Banyak orang sekarang sudah tidak memiliki prinsip, mereka hanya mengikuti air yang mengalir. Orang-orang yang memiliki idealisme itu banyak, tapi banyak juga yang tidak didampingi dengan prinsip.
Teguh pada pendirian. Romantisme terhadap masa lalu. Setia. Kekeluargaan. Persaudaraan. Setia. Perhatian dari orang asing. Persahabatan. Setia. Pembalasan dendam. Menghadapi sesuatu yang baru. Percobaan pembunuhan. Setia. Setia…
Apa aku terus mengulang kata setia? Karena menurutku itu adalah nilai yang paling dominan dari novel ini; baik antar kekasih, tetangga, sahabat.
Oh. Aku selalu hendak menangis bila mengingat buku ini.

Menurut orang lain, buku ini hampir mirip dengan The 100-Year-Old-Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared karya Jonas Jonasson yang sama-sama berasal dari Swedia–tapi karena buku itu masih ada di list TBR-ku, maka aku tak bisa mengatakan apa-apa.

Tapi meskipun kau belum baca buku The 100-Year-Old-Man itu, lupakan. Kalian bisa baca A Man Called Ove langsung.

Ralat. Kalian harus baca buku ini.

Kalian penasaran dengan buku ini kan? Dengan adanya bukupedia.com/amancalledove kalian bisa langsung membelinya dengan mudah, guys! Just in one click 😉

Namun, jika ada yang bertanya, Ove akan menjawab bahwa dia tidak pernah hidup sebelum bertemu perempuan itu. Juga, setelah perempuan itu tiada. ~ hlm. 182

Regards,
A.P.S.

P.S. Pada tiga bulan yang lalu, tepatnya pada saat natal, December 25, 2015, buku ini sudah di adaptasi menjadi film dan sama seperti bukunya, film ini pun sukses besar di negara asalnya! Check out:

P.S.S. And you know? I became curious about Saab!

“Keraskan Dirimu, Sebelum Kau di Keraskan Dunia”

That’s what my college friend told me.

Maksudnya adalah, kau harus berusaha dengan keras sebelum dunia memaksamu untuk berusaha.

Kau tahu, kau tidak suka bila ada seseorang yang memaksamu atau bahkan memerintahmu.

So do I.

When they not someone you’re respect nor someone who doesn’t have status above you, it always made me rebel.

(Am I a kid *palmface)

My friend called me a few minutes ago. He’s working now as a banker. And when I still didn’t have formal job yet, he’s really consider about it (it looks like that; and NO, there’s no romance between us, he’s so similar with me so it usually made me annoyed of him) and he’s telling me that I have get back on track (read: job hunter status) and make myself really trying to get myself a proper job.

I guess that’s what he’s mean.

But, as I told you in previous notes, that I still have much thought in me. You know…

If you read it (and you can understand what I mean with my poor grammar) and willing to give a minutes of your time, please kindly give me some opinion or just what you thinking; should I forget about going to Europe (and ‘release’ my Dad from defray me) or get any job (and get out from being a cashier)?

🙂

Regards,

A.P.S.

It’s 2016!

So, here I’am again… Back to write something unimportant thought in my blog.

And it’s March!

The last I wrote in here is two years ago, about losing our beloved grandma.

And since then, I’ve graduated from Sociology department, UNPAD at April 28, 2015. Made it on time–or less, three years 4 month–approximately.

Well, but since graduation on August, I didn’t get any activities… *don’t look at my belly!
DSCN1692.JPG
Yep, I graduated with my second Bro… Just don’t ask any further, teehee.

But, well, I don’t know if my activities right now can told ‘working’.

Cashier. I ‘work’ on that, on some publishing near my house. And since semester 5, I sold novels, so it made me easier (and harder) to continue with that online novel shop (you can check @asafiction on instagram, thank you ;))

You already know that I’m a book–novel lover, addict, etc. And there’s meme around booklover that we want getting paid by just reading. And I did it.

Became a cashier, which doesn’t have customers all the time, I have plenty times to read. It’s nice, right? But on the other hand, after three months in there, I get tired reading. I know, I know what you guys would says, but imagine it; so much time, a whole days I read one novel by one novels. Eventually, no matter I love to read, it will get tired of me.

And I have so much thinking these days. About continuing became a cashier (well, I’m bachelor afterall, there’s additional title after my last name), getting some formal job, no, I think I’ll hold ‘job hunter’ status ’till I came back from Europe (amiinn, I hope there’s no any hitch until then and back).

Everytime I think about these things, I always get exhaled.

But, keep positive, Non! Bismillah.

(as if I’m so agamais, teehee)

Regards,

A.P.S. Non.

Seorang Wanita yang Tangguh.

Hj. Yama Soemargo binti Kenasin

Apa yang kuketahui tentang beliau?

Beliau merupakan ibu dari ayahku yang merupakan anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Memang cukup untuk membuat satu tim sepakbola campuran laki-laki dan wanita. Oke, bercanda.

Tapi dari anak yang berhasil ia lahirkan, sebelas orang, sudah membuktikkan dari awal bahwa beliau adalah wanita yang sangat tangguh.

Itu, poin pertama.

Beliau lahir pada 4 Mei 1920—tidak perlu membayangkan dimana keberadaanku dan kamu pada tahun itu. Sungguh, tidak perlu.

Beliau lahir di Pagar Alam, suatu tempat yang baru aku tahu saat beliau meninggal. Saat kesana, memang tidak tepat ke tempat beliau lahir, tapi sudah membuktikkan bahwa tempat itu sangat indah dan asri.

Beliau menikah dengan seorang pria di Lahat—pada tahun berapa? Entah, saya lupa. Belum pernah mendengar Kota Lahat juga? Tak apa, aku pun baru tahu saat—tidak, bukan saat beliau sudah meninggal, tetapi sudah lebih lama aku mengetahuinya.

Pria itu kerja apapun, dari kepala masinis di Lahat hingga kepala suatu perusahaan di Bandar Agung, itu berada di Lampung. Kerjanya tidak menetap dan berpindah-pindah, membuat wanita mengikutinya dengan anak-anak yang setiap tahun bertambah.

Hingga pada akhirnya pria itu meninggal karena penyakit dan sedang berada jauh dari sisi istrinya.

Saat itu istrinya telah melahirkan anak terbungsu, anak kesebelas, yang telah berusia dua tahun. Sebagai seorang ibu yang memiliki sebelas anak, kini tanpa ada seorang pria yang menanggung segala keperluannya,  beliau terpaksa untuk membiarkan suaminya terbaring untuk selamanya di Lampung, tak dapat membawanya ke sisinya untuk terakhir kalinya.

Kau tahu? Itu sangat menyedihkan.

Tahun-tahun terus berlanjut. Anak-anak terus tumbuh dan berkembang. Segala keperluan untuk bertahan hidup terus bertambah. Wanita itu bekerja—sesuatu yang dilarang pada saat itu bila seorang suami masih ada, namun dengan keadaan yang berubah, wanita itu mengikuti ujian dan melamar untuk menjadi guru SD. Banyak masa yang menyenangkan yang ia lalui bersama dengan anak-anaknya.

Wanita itu tetap bersiteguh bahwa anak-anaknya harus bersekolah—tetap bersekolah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah penting bagi anak-anaknya.

Tahun demi tahun berlalu, anak-anaknya semakin tumbuh besar dan mulai meninggalkan tempat bernaung mereka; ada yang ke Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya.

Dari Lahat,  wanita itu dipaksa untuk pindah ke Palembang bersama anak tertua kedua dan suaminya. Lalu pindah ke Bekasi, lebih dekat dengan kebanyakkan anak-anaknya. Namun ia tidak betah setelah beberapa tahun. Ia lebih memilih untuk kembali ke Palembang.

Hingga ajal menjemputnya.

Secara harfiah.

25 Juli 2014.

Setiap tahun, setiap anak-anaknya berusaha untuk berkumpul dengan ibu mereka, membawa keluarga baru yang lebih kecil. Cucu-cucu hingga cicit-cicit harus mengenal nenek dan buyut mereka.

Bagiku sendiri, tak ada yang harus disalahkan, well, mungkin aku bisa menyalahkan diriku sendiri, tapi aku tak banyak memiliki kenangan bersama nenekku, wanita tangguh itu. Selain dari cerita-cerita yang sering ayahku ceritakan ulang, aku tak tahu banyak mengenainya ditambah dengan kemampuan ingat jangka pendekku.

Baik, ini pengakuanku.

Ketika aku kecil, aku tak ingat kontakku dengan nenek. Ketika aku mulai besar, aku tak banyak bercakap dengannya. Mungkin karena jarak antara tempat tinggalku dan nenek yang lumayan jauh—butuh waktu satu jam menggunakan pesawat—dan hanya neneklah satu-satunya orang yang seusianya yang kutahu—kakek dan nenek dari ibuku telah pergi sebelum aku ada, sehingga aku tak banyak tahu bagaimana harus berhadapan dengannya. Entahlah, beliau itu bukan om dan tante—yang biasanya aku pun selalu canggung berhadapan dengan mereka, beliau itu seseorang yang paling tua di keluargaku. Aku tak terbiasa, itu saja.

Karena itu aku sanggup untuk menahan tangisku saat mendengar berita itu. Aku pun harus kuat demi ayah dan ibuku. Kau tahu kenapa.

Tapi setiap aku mengingatnya, aku selalu mengingat kulitnya yang merenggang karena usia dengan kelembutannya—aku sangat takut menyentuh kulitnya yang sangat lembut dan rapuh, takut bila kusentuh akan terjadi sesuatu yang buruk, rambut putihnya yang sangat-sangat-sangat panjang yang selalu ia gerai setelah mandi dan keramas. Aku pernah memandangi nenek setelah mandi, duduk di kursi di depan cermin dan sedang menyisir rambutnya yang sangat-sangat-sangat panjang lalu menggelungnya-menggelungnya-menggelungnya lagi menjadi cepolan di atas rambutnya hanya ditusuk dengan jepitan khusus dan voila! Rambut itu tidak akan berantakkan seharian. Dan satu hal lagi yang selalu kuingat tentangnya adalah gunting kuku. Setiap anak—well tidak, setiap cucu selalu menanyakan padanya tentang gunting kuku, diberitahukannya tempatnya dan setelah itu pasti selalu ada kata-kata, “kembalikan lagi ke tempat asalnya setelah selesai dipakai, supaya tidak sulit untuk mencarinya lagi.” Yah, semacam itulah.Dan itu berlaku untuk setiap barang-barangnya. Aku pun mengingat bahwa nenek selalu bersiteguh untuk selalu menyapu rumahnya, katanya itulah satu-satunya olahraga yang dapat ia lakukan. Itu, saat beliau masih sehat walau berumur. *berkaca pada diriku sendiri!*

Setiap ke kamarnya, pemandangan menggelung rambut dan gunting kuku itu selalu teringat padaku.

Namun aku tak begitu ingat akan nenek di saat-saat terakhirnya. Entah karena apa, aku tak belum pernah ikut merawat nenek semenjak beliau jatuh sakit dan sakitnya semakin parah. Hanya dari berita yang setia diberitakan di whatsapp grup Soemargo dan tentu saja dari ayahku.

Sepanjang hidup ayahku, ayah mengambil nilai-nilai kehidupan nenek; pasrah, ikhlas, dan disiplin. Bila ayahku sudah menuliskannya, ya sudahlah. Pasrah mendapat apa yang harus ia hadapi, ikhlas dalam apapun yang didapatkanya dan disiplin dalam menjalankan kehehidupannya. Kita semua pasti sadar akan tiga hal itu. Bagiku, poin ketiga-lah yang sangat terlihat, beliau tetap merapkannya hanya hingga sakit menyerangnya yang membuat kebebasan nenek untuk bergerak sendiri lebih terbatasi.

Bila aku sendiri, aku selalu terngiang dengan semboyan nenek, gotong royong satu hati. Kalimat itu sangat tepat ditujukkan pada sebuah keluarga besar, keluarga besar nenek.

Nenek, Hj. Yama Soemargo binti Kenasin, adalah wanita yang tangguh, setia, dan pantang menyerah demi kesejahteraan anak-anaknya. Kini, anak-anaknya telah mampu berdiri di kaki mereka sendiri dan membangun keluarganya masing-masing, mengasuh anak dan cucu. Menyadari itu, mungkin, dengan kehendak Allah SWT, nenek membiarkan anak-anaknya melanjutkan perjalanan kehidupan tanpa dirinya dan membiarkan mereka menjelajahi kehidupan lagi dan nenek sendiri menyusul kakek Soemargo dan kakak-kakaknya serta sanak saudaranya yang lain dalam kedamaian. Amin.

Sangat sulit untuk melupakannya. Memang. Tapi siapa bilang kita harus melupakannya? Kita dapat mengenang segala hal baik tentangnya dan dapat pula menerapkan apa yang beliau lakukan, nilai-nilai positif ke dalam kehidupan kita juga.

 

 Via Path (August 13, 2014)

Please, let me say this: aku sangat bangga dapat terlahir di dalam bagan keluarga Soemargo, Yama Soemargo. Begitu banyak anak-cucu-cicit yang menyayanginya, mencintainya. Begitu banyak kenangan bersamanya. Baru sepintas aku lihat draft yang ada, airmataku bercucuran. Gagal sudah ambisi anehku untuk menahan tangis. Tapi sungguh, aku… Begitu banyak kenangan, pelajaran hidup yang sangat berharga. Ingin rasanya dapat mengikuti semua itu. Aku membayangkan ini baru seorang nenek yang kusayangi walau jarang bertemu bagaimana bila kedua orangtuaku nanti? Aku hanya berharap, aku tidak akan berubah menjadi anak yang begitu ‘mengagungkan’ dunia, terlalu berusaha keras mencapai ‘kesuksesan’ hingga melupakan apa dan siapa yang terpenting di kehidupanku. Please, just let me say that… This is just too much.

Tháng thứ 18 David thá»±c hiện nghÄ©a vụ

David Archuleta Vietnam

Congratulations to Elder Archuleta for 18 months of service on his mission for the Church of Jesus Christ of Latter Day Saints. 6 months to go!

Below are updates of our dear Elder Archuleta from Chile recently.

“David sings like every day during street contacts”, via Hermana Leavitt in the Santiago South mission (formed with part of Rancagua mission).

To answer your question, Dad, David Archuleta is in the Rancagua mission, but an elder from my zone had him as his trainer! We were all asking him tons of questions about it haha. He said Archie is a shy kid, but they would sing like every day during street contacts.

A few new pictures coming!

Baptism, Aug 2013New baptism David did in August, 2013 (credit: chilerancaguamission)

Elder Archuleta playing Chilean games-9- 2013David playing Chilean games (shared by @kimak)

Zone leader Elder Archuleta- Sept 2013

David comes to celebrate Hna Buelvas’ birthday (Hna Buelvas is new companion of Hermana Stephenson)

Zone Activity- Convento Viejo (a dam in Chile) 4th week of Sept, 2013Zone activity- Convento Viejo…

View original post 385 more words

Too Much Thinking and “I Don’t Know”

Well, it’s been a while since I use this blog. Ah, I don’t know what I have to write in here.

But, maybe it’s a ‘new start’, I think.

Well, my activities just a usual. So usual. So I got boring with all that stuff.

At morning I wake up and get ready to the college, listen the teacher ‘speech’, writing (or draw) something on my paper, eat, gossip with buds, bla bla bla. And yeah, finally, I got the cusp of boredom, specially at night, at home when I’m not doing nothing. Like now.

And from that, I knew that I was the person who loves to move, just some activities. If I just sit around, I’ll get boring.

So I really need to do something–I mean not just walking around, buy some stuff (even it makes my feeling better, well, I’m a girl), but something. And so I’m thinking; “what I want to do? Something that have meaning”

First, practice tennis like a pro, yes, I want to following some match. But I know, at my age is not to “start” anymore, moreover to become pro.

Second, finish my story. Yap, I used to writing since I’m in junior high (or senior high maybe?) and when it, my imagination was so ‘smoothly’, you know? I’m not always stuck. But now, I don’t know, but when I did writing the ex. like prolog, then I can’t bring the story to the conflict, or bring the conflict to the conclusion. It made me frustration, I admit.

Third, hmm playing violin more often. But well, yeah… you know? No? You don’t know? Well, let it be…

Fourth, So what else? Hmm, Oh! Yeah, painting. I don’t know but I want to try. A small canvas and some acrylic paint. Or make some baked potato.

Fifth, after my Mom trigger some idea about making a small room above my bedroom for keep my books there, yes a small library special for me. That Idea always on my mind. I don’t know if Mom just some talking and won’t do nothing but I want to make it real, my own (small) library. I know Mom (and Dad) can bring that my new dream to become real but I think there’s more something to thinking more first. But, oh Allah, one full wall I’ll use to keep the books from ceiling to the floor, and that floor will covered with a thick red comfortable carpet, and on the other side there is a easychair (since long ago I always want chair like ‘chair’ who’s belonging to my cousin–and now is somewhere). On the other wall side, will be not a ordinary wall but covered with window, big window which is reach from ceiling to the floor (yap, like books wall) so the sunlight can enter the room and can minimize the use of lights (light just for night). I know, I will be comfort will all that stuff and yeah, maybe I can spend the whole day in there. But I’m thinking again, I don’t know but I’m thinking that after I graduate from college I will searching for job and have a house then married then I move away from my parents home. And it make me feeling like deplore if ‘I’ make that special room but after couple years I’ll go away. Isn’t waste? Why I didn’t make that special room on my–future–own house? Yeah, I know, It’s need couple years. For many years. I told my Mom like that and she said (I’m not sure the really word is but the point is), “Yeah, let it be.” The point is Mom allow me to ‘make’ that special room. But, once again, I think it will not happen. Ah, I hate being pessimist!

Sixth, what else? Oh! Flight attendant. Yeah, I told my Mom, who was ever aspire to become air hostess, that if I’m not get a job immediately, I want to follow the training to become flight attendant. But Dad tell me that I have to go straight to S2 (what? Magister or what?) after graduate. But yeah, future… don’t know what will happen, rite?

Seventh, being fashion blogger or stuff like that? I know I have interested in fashion but it often just standard. And I’m not that so fashionable.

Eight, go abroad? I want. I want to Europe. One of my best friend, told me that her friend is after on Europe, visit some cities in there. I really want it. But I’m worried that my english is worse. Can it happen? Not yet my grammar is so bad (so I’m sorry for this writing, ‘k and of course with help from goo*le translate hihi so sorry with my grammar). This writing is my practice, actually. In my daily life, I’m not using english so I’m worried if my english ability decreased.

Ninth, …. what else? I have no idea.

Well, after I’m thinking again, again, and again why I’m like this, feeling like something less. Well I think I know the answer; is I need to looking my passion is. Yeah, I don’t know what my passion. Many people said, “my passion is in music,” “my fashion is my passion,” “cooking is my passion”, so what my passion is?

I don’t know.

I know I looveees reading novels, comics but lately I feel it’s not enough anymore. After I’m finished one comic or novel, I’m feeling empty. (Finally I said that word). Really empty. Then I’m thinking, “what can I do? To make this (my) life is more meaningful?” I just felt that my life is just that’s it, y’ know? Just itu-itu saja.

I want something meaningful in my life, I want feeling something, I want… I want… I want… what? Again, I don’t know.