[Resensi?] The Young Elite

Pengarang: Marie Lu
Judul Asli: The Young Elites (AS)
ISBN: 978-979-433-909-1
Terbit/Rilis:  2016
Penerbit: Mizan Fantasi
Translated to: Indonesia
Harga: Rp 75.000

Kesan terakhir dari membaca ini adalah kisah distopia yang sangat berbeda dari yang lainnya. Mungkin karena saya sudah mempunyai feeling bagus mengenai buku ini terbit (bahkan sebelum terbit. Saya sudah lihat-lihat foto buku ini dari para bookstagram and ‘so dying to read it’), saya langsung jingkrak-jingkrak begitu diterbitkan ke bahasa kita (begitu pula dengan novel A Tale of Two Cities(!) tapi sayangnya karena satu dan lain halnya yang tidak penting tapi menuntut perhatian saya, sampai saat ini saya belum membelinya *ya, saya penganut ajaran untuk memiliki buku yang benar-benar saya inginkan untuk dibaca*).

Biar saya beri spoiler sedikit, ini adalah kisah tentang pembunuh. The killer.
(Spoiler tapi tidak disembunyikan? Ya, saya memang kejam)
Saya selalu mengalami kesulitan setiap hendak membuat blurb buku (oleh karena itu biasanya saya suka malas, tapi karena ini review untuk di blog maka saya harus berusaha), dan usaha saya akhirnya seperti di bawah ini: (dan saya mencoba dengan keras untuk tidak spoiler!–lagi).

Sepanjang hidup Adelina Amouteru, dia selalu menginginkan kasih ayah kandungnya. Namun setelah sang ibu meninggal dunia karena wabah berdarah yang menyerang rumahnya, ayahnya berubah. Hanya adiknya yang cantik dan manis yang diberi perhatian khusus oleh ayahnya–yang tidak mendapat peninggalan dari wabah berdarah. Sedangkan Adelina mendapatkan mata kiri yang menjadi buta dan perubahan warna rambutnya menjadi perak. Saat ketika ayahnya sudah menyerah terhadap Adelina, dia mencoba menjual anak sulungnya tersebut. Adelina mendengar mengenai hal itu dan mencoba kabur dari rumah–dan mendapati bahwa ia menjadi apa yang sebenarnya diinginkan oleh ayahnya, memiliki kekuatan khusus–seorang malfetto atau yang memiliki banyak julukan, salah satunya The Young Elites. Namun begitu mengetahuinya, ayahnya mati.
Adelina yang baru pertama kali mengeluarkan kekuatannya, tidak berhasil melarikan diri dari pasukan khusus kerajaan yang bertugas membasmi malfetto karena dianggap berbahaya bagi manusia normal.
Adelina tidak mati karena dia berhasil diselamatkan oleh perkumpulan Dagger Society yang dipimpin oleh lelaki tampan bernama Enzo. Mereka memiliki tujuan untuk menggulingkan kerajaan dan membuat malfetto dapat hidup bebas layaknya orang normal tanpa harus khawatir diburu untuk dibunuh.
Adelina hanya tinggal memilih; bergabung dan menuruti kata-kata Enzo dan Dagger Society atau terus menghindari kerajaan dan kematian menjadi sesuatu yang pasti; memilih mengkhianati Dagger Society yang telah mengajarkannya mengendalikan kekuatannya, atau mengkhianati adiknya ketika rahasia kecil adiknya itu terungkap?

And that’s it. Apakah kalian mengerti? Apakah kalian jadi penasaran? Kalau ya, berarti aku berhasil membuat blurb-nya. Kalau tidak, kalian bilang? Yah aku masih berlatih, guys. (Btw, kalian boleh caci maki di komentar di bawah post ini dan katakan apa yang kalian rasakan tapi dengan bahasa sopan ya, terima kasih!)

Well, balik lagi. The Young Elite mendapat bungkukan hormat dariku. Buku ini berbeda dari genre dystopia lainnya, heroine yang penakut namun berani, heroine yang cacat, heroine yang tersingkirkan, heroine yang pembunuh… namun sama seperti yang lain, heroine adalah sosok istimewa yang akan membawa perubahan pada negaranya.

Aku sangat menantikan Rose Society (apakah kalian mau spoiler lagi? *smirk.

Itu adalah… *aku di teriakin dari belakang, jadi ok, aku tidak akan spoiler lagi), buku kedua dan aku sangat sangat sangat sangaaattt menantikannya! Tapi aku yakin akan lama sekali sebelum terbit 😦
Apakah perasaanku akan sama dengan buku pertamanya? Semoga tetap dan bertambah. Amin.

5 stars!

N.B. Sayang aku keburu mengembalikan buku ini dan aku lupa menuliskan quotes dari novel ini. Tapi aku begitu menikmati cerita ini hingga aku hanya sedikit menyadari kata-kata yang bagus untuk dituliskan di sini, dan begitu membaca paragraf setelahnya, hal itu menjadi tidak penting lagi. Aku tidak menyadarinya karena aku begitu menikmatinya! If you get it.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s