Seorang Wanita yang Tangguh.

Hj. Yama Soemargo binti Kenasin

Apa yang kuketahui tentang beliau?

Beliau merupakan ibu dari ayahku yang merupakan anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Memang cukup untuk membuat satu tim sepakbola campuran laki-laki dan wanita. Oke, bercanda.

Tapi dari anak yang berhasil ia lahirkan, sebelas orang, sudah membuktikkan dari awal bahwa beliau adalah wanita yang sangat tangguh.

Itu, poin pertama.

Beliau lahir pada 4 Mei 1920—tidak perlu membayangkan dimana keberadaanku dan kamu pada tahun itu. Sungguh, tidak perlu.

Beliau lahir di Pagar Alam, suatu tempat yang baru aku tahu saat beliau meninggal. Saat kesana, memang tidak tepat ke tempat beliau lahir, tapi sudah membuktikkan bahwa tempat itu sangat indah dan asri.

Beliau menikah dengan seorang pria di Lahat—pada tahun berapa? Entah, saya lupa. Belum pernah mendengar Kota Lahat juga? Tak apa, aku pun baru tahu saat—tidak, bukan saat beliau sudah meninggal, tetapi sudah lebih lama aku mengetahuinya.

Pria itu kerja apapun, dari kepala masinis di Lahat hingga kepala suatu perusahaan di Bandar Agung, itu berada di Lampung. Kerjanya tidak menetap dan berpindah-pindah, membuat wanita mengikutinya dengan anak-anak yang setiap tahun bertambah.

Hingga pada akhirnya pria itu meninggal karena penyakit dan sedang berada jauh dari sisi istrinya.

Saat itu istrinya telah melahirkan anak terbungsu, anak kesebelas, yang telah berusia dua tahun. Sebagai seorang ibu yang memiliki sebelas anak, kini tanpa ada seorang pria yang menanggung segala keperluannya,  beliau terpaksa untuk membiarkan suaminya terbaring untuk selamanya di Lampung, tak dapat membawanya ke sisinya untuk terakhir kalinya.

Kau tahu? Itu sangat menyedihkan.

Tahun-tahun terus berlanjut. Anak-anak terus tumbuh dan berkembang. Segala keperluan untuk bertahan hidup terus bertambah. Wanita itu bekerja—sesuatu yang dilarang pada saat itu bila seorang suami masih ada, namun dengan keadaan yang berubah, wanita itu mengikuti ujian dan melamar untuk menjadi guru SD. Banyak masa yang menyenangkan yang ia lalui bersama dengan anak-anaknya.

Wanita itu tetap bersiteguh bahwa anak-anaknya harus bersekolah—tetap bersekolah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah penting bagi anak-anaknya.

Tahun demi tahun berlalu, anak-anaknya semakin tumbuh besar dan mulai meninggalkan tempat bernaung mereka; ada yang ke Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya.

Dari Lahat,  wanita itu dipaksa untuk pindah ke Palembang bersama anak tertua kedua dan suaminya. Lalu pindah ke Bekasi, lebih dekat dengan kebanyakkan anak-anaknya. Namun ia tidak betah setelah beberapa tahun. Ia lebih memilih untuk kembali ke Palembang.

Hingga ajal menjemputnya.

Secara harfiah.

25 Juli 2014.

Setiap tahun, setiap anak-anaknya berusaha untuk berkumpul dengan ibu mereka, membawa keluarga baru yang lebih kecil. Cucu-cucu hingga cicit-cicit harus mengenal nenek dan buyut mereka.

Bagiku sendiri, tak ada yang harus disalahkan, well, mungkin aku bisa menyalahkan diriku sendiri, tapi aku tak banyak memiliki kenangan bersama nenekku, wanita tangguh itu. Selain dari cerita-cerita yang sering ayahku ceritakan ulang, aku tak tahu banyak mengenainya ditambah dengan kemampuan ingat jangka pendekku.

Baik, ini pengakuanku.

Ketika aku kecil, aku tak ingat kontakku dengan nenek. Ketika aku mulai besar, aku tak banyak bercakap dengannya. Mungkin karena jarak antara tempat tinggalku dan nenek yang lumayan jauh—butuh waktu satu jam menggunakan pesawat—dan hanya neneklah satu-satunya orang yang seusianya yang kutahu—kakek dan nenek dari ibuku telah pergi sebelum aku ada, sehingga aku tak banyak tahu bagaimana harus berhadapan dengannya. Entahlah, beliau itu bukan om dan tante—yang biasanya aku pun selalu canggung berhadapan dengan mereka, beliau itu seseorang yang paling tua di keluargaku. Aku tak terbiasa, itu saja.

Karena itu aku sanggup untuk menahan tangisku saat mendengar berita itu. Aku pun harus kuat demi ayah dan ibuku. Kau tahu kenapa.

Tapi setiap aku mengingatnya, aku selalu mengingat kulitnya yang merenggang karena usia dengan kelembutannya—aku sangat takut menyentuh kulitnya yang sangat lembut dan rapuh, takut bila kusentuh akan terjadi sesuatu yang buruk, rambut putihnya yang sangat-sangat-sangat panjang yang selalu ia gerai setelah mandi dan keramas. Aku pernah memandangi nenek setelah mandi, duduk di kursi di depan cermin dan sedang menyisir rambutnya yang sangat-sangat-sangat panjang lalu menggelungnya-menggelungnya-menggelungnya lagi menjadi cepolan di atas rambutnya hanya ditusuk dengan jepitan khusus dan voila! Rambut itu tidak akan berantakkan seharian. Dan satu hal lagi yang selalu kuingat tentangnya adalah gunting kuku. Setiap anak—well tidak, setiap cucu selalu menanyakan padanya tentang gunting kuku, diberitahukannya tempatnya dan setelah itu pasti selalu ada kata-kata, “kembalikan lagi ke tempat asalnya setelah selesai dipakai, supaya tidak sulit untuk mencarinya lagi.” Yah, semacam itulah.Dan itu berlaku untuk setiap barang-barangnya. Aku pun mengingat bahwa nenek selalu bersiteguh untuk selalu menyapu rumahnya, katanya itulah satu-satunya olahraga yang dapat ia lakukan. Itu, saat beliau masih sehat walau berumur. *berkaca pada diriku sendiri!*

Setiap ke kamarnya, pemandangan menggelung rambut dan gunting kuku itu selalu teringat padaku.

Namun aku tak begitu ingat akan nenek di saat-saat terakhirnya. Entah karena apa, aku tak belum pernah ikut merawat nenek semenjak beliau jatuh sakit dan sakitnya semakin parah. Hanya dari berita yang setia diberitakan di whatsapp grup Soemargo dan tentu saja dari ayahku.

Sepanjang hidup ayahku, ayah mengambil nilai-nilai kehidupan nenek; pasrah, ikhlas, dan disiplin. Bila ayahku sudah menuliskannya, ya sudahlah. Pasrah mendapat apa yang harus ia hadapi, ikhlas dalam apapun yang didapatkanya dan disiplin dalam menjalankan kehehidupannya. Kita semua pasti sadar akan tiga hal itu. Bagiku, poin ketiga-lah yang sangat terlihat, beliau tetap merapkannya hanya hingga sakit menyerangnya yang membuat kebebasan nenek untuk bergerak sendiri lebih terbatasi.

Bila aku sendiri, aku selalu terngiang dengan semboyan nenek, gotong royong satu hati. Kalimat itu sangat tepat ditujukkan pada sebuah keluarga besar, keluarga besar nenek.

Nenek, Hj. Yama Soemargo binti Kenasin, adalah wanita yang tangguh, setia, dan pantang menyerah demi kesejahteraan anak-anaknya. Kini, anak-anaknya telah mampu berdiri di kaki mereka sendiri dan membangun keluarganya masing-masing, mengasuh anak dan cucu. Menyadari itu, mungkin, dengan kehendak Allah SWT, nenek membiarkan anak-anaknya melanjutkan perjalanan kehidupan tanpa dirinya dan membiarkan mereka menjelajahi kehidupan lagi dan nenek sendiri menyusul kakek Soemargo dan kakak-kakaknya serta sanak saudaranya yang lain dalam kedamaian. Amin.

Sangat sulit untuk melupakannya. Memang. Tapi siapa bilang kita harus melupakannya? Kita dapat mengenang segala hal baik tentangnya dan dapat pula menerapkan apa yang beliau lakukan, nilai-nilai positif ke dalam kehidupan kita juga.

 

 Via Path (August 13, 2014)

Please, let me say this: aku sangat bangga dapat terlahir di dalam bagan keluarga Soemargo, Yama Soemargo. Begitu banyak anak-cucu-cicit yang menyayanginya, mencintainya. Begitu banyak kenangan bersamanya. Baru sepintas aku lihat draft yang ada, airmataku bercucuran. Gagal sudah ambisi anehku untuk menahan tangis. Tapi sungguh, aku… Begitu banyak kenangan, pelajaran hidup yang sangat berharga. Ingin rasanya dapat mengikuti semua itu. Aku membayangkan ini baru seorang nenek yang kusayangi walau jarang bertemu bagaimana bila kedua orangtuaku nanti? Aku hanya berharap, aku tidak akan berubah menjadi anak yang begitu ‘mengagungkan’ dunia, terlalu berusaha keras mencapai ‘kesuksesan’ hingga melupakan apa dan siapa yang terpenting di kehidupanku. Please, just let me say that… This is just too much.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s