Setelah Donor Darah itu Harus Cepat Makan!

hmm, gimana aku memulai ceritaku kali ini ya?

begini saja:

(beberapa saat kemudian)

gimana ya?

Oh ya, tanggal 6 Maret kemarin aku donor darah! for the first time. ahahahaha. itu adalah pengalaman yang menarik, kau tahu?

agak siang aku datang, lalu mendapat no. urut ke 205. setelah lumayan menunggu SENDIRI (eh malah bertemu pandang dengan cowo cakep ahahaha), lalu aku masuk ke ruangan Gor Pakuan. pertama-tama aku di tes tensi dulu, normal (akhirnya!), lalu pindah ke meja sebelah untuk di tes HB, bagus (aku bergidik karena jari manisku ditusuk untuk mendapatkan sampel darah yang hasilnya golongan darahku O, tentu saja). lalu menunggu sebentar untuk mendapat kantong untuk menampung darah yang kudonorkan. aku mengajak seorang perempuan berkerudung lumayan lebar untuk berbicara–alibi untuk menutupi rasa sedikit tegangku. beliau dari angkatan 2009 (kalau nggak salah inget. atau 2008? atau 2010? lupa) dan berasal dari fakultas farmasi. disela-sela percakapanku, mataku yang menyusuri sekeliling ruangan itu tertumbuk pada seorang cowok yang lengannya sedang disambung oleh ‘sedotan’ untuk mengalirkan darahnya ke kantong berwarna krem itu. lama, ternyata dia juga sedang melihatku. cowok itu adalah cowok cakep yang aku lihat saat menunggu giliranku masuk ke ruangan. aku memalingkan muka (setelah menyadari bahwa dia memang–menurutku–melihatku terus), menutupi rasa–entah tegang atau salah tingkah, aku mengajak teteh itu mengobrol lagi. setelah beberapa jawaban yang keluar dari mulut teteh itu, akhirnya namaku dipanggil oleh pria dari PMI Bandung untuk mengambil kantong dan diajak untuk duduk di kursi yang nyaman untuk tiduran (ahahaha) lalu lenganku di ‘bolongi’ untuk mengucurkan darah dari ‘lubang’ kecil itu. setelah itu aku tak melihat cowok dan teteh itu lagi. pulangnya aku mendapatkan beberapa souvenir, alhamdulillah.

pulang kerumah, dengan bangga, kuperlihatkan lengan kananku yang dihansaplas untuk menutupi ‘lubang’ku. setelah beberapa kali tanya jawab dengan orang tua dan kakakku, mereka mengetahui bahwa aku tidak segera makan setelah donor itu (tentu mereka tahu karena kuberi tahu). aku tidak tahu akan hal itu. aku dimarahin. ahahahaha. jadi tiga bulan kemudian, setelah aku donor lagi, aku harus cepat makan (kalian juga)!

cerita 2:

hari ini, setelah hari kemarin aku tidak ikut rapat untuk menentukan ketua, sekretaris, bendahara untuk kepengurusan PJS (Penanggung Jawab Sementara untuk HIMA Sosiologi), diadakan, hmm, seperti perekrutan untuk staff dari beberapa departemen. kami baru memiliki empat departemen; kaderisasi, minat bakat (miba), kajian sosial dan politik, dan hubungan luar negeri.

setelah mendapat pencerahan dari temanku, aku mendaftar di dua departemen; kaderisasi dan hubungan luar negeri. yah, semoga aja dua departemen itu tidak akan sering-sering bentrok waktu kerjanya.

intinya, untuk staff kaderisasi berjumlah 7 orang, termasuk aku. beberapa orang “tereleminasi” dengan kesadaran mereka sendiri. (istilah yang aneh)

yang aku aneh, walau jurusan kami sudah sedikit (karena angkatan pertama. ya, aku BANGGA!) yang berjumlah 53 (dua orang sudah keluar), namun aku perhatikan para anak cewek yang, hmm, maaf aku sebut, apatis. (padahal beberapa jam sebelumnya aku juga merasa apatis terhadap tugas kelompokku hihihi). ada juga yang tidak berminat mendaftar lagi karena tahu akan di seleksi dengan wawancara. ternyata, keputusanku benar untuk mencoba saja mendaftar dulu. dan ternyata, aku anggap, tak ada yang namanya seleksi.

rasanya kocak, seingat aku, selama aku bersekolah dari SMP hingga SMA anak-anak ceweklah yang sering berbicara di kelas (dalam bentuk formal) , mengacungkan tangan untuk bertanya ataupun saat berdiskusi, pokoknya yang paling mendominasi kelas dibanding anak cowoknya. namun kini, semuanya berubah 180 derajat (rasanya kehidupan kuliahku telah memutar balikkan hidupku 180 derajat), para cowoklah yang lebih sering bertanya, aktif di kepengurusan maupun saat diskusi. yah, entahlah. aku juga merasa aku merubah diriku, menjadi diri yang, “sebaiknya aku bertingkah seperti apa di kondisi seperti ini?”. no more spontaneous (yah, kalo kondisi tidak memungkinkanku untuk berpikir, spontan selalu ada). tidak praktis. dan ini menyebalkan. lalu kusadari, aku juga berubah menjadi layaknya di komik cewek. seorang cewek yang tidak menarik, selalu sendirian, tidak punya teman. yang lain, seorang cewek yang selalu tersenyum terpaksa dengan ‘teman-temannya’. tapi, di komik seperti itu dari tengah cerita muncul seorang cowok yang melihat cewek itu berbeda dan menaruh perhatian, hingga di akhir cerita mereka selalu jadian.

aku mau tertawa.

itu di komik. itu kebudayaan Jepang. itu fiksi.

cerita 3:

there’s no 3rd story.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s