Am I Invisible?

tadi sebelum pulang dari kampus, aku menyempatkan ikut rapat sebentar di salah satu UKM yang kuiikuti.

singkat cerita, aku pulang dengan temanku dan setelah semua orang turun dari angkot yang kutumpangi, tiba-tiba angkot berhenti didepan tukang jualan martabak telor dan manis.

tukang angkot itu mematikan seluruh mesinnya, menutup kaca jendelanya, membuka pintunya dan dia keluar dari angkot! di berjalan mengitari bagian depan mobil angkot.

dug-dag-dug-dag. aku teringat akan cerita yang sempat heboh beberapa waktu yang lalu; perkosaan oleh supir angkot. mana ini sudah malam lagi.

aku sudah berdo’a kepada Allah SWT. “Ya Allah tolonglah hambamu yang belum kelar kuliah dan belum bahagiain orang tua, belum nikah, belum punya cucu!” (ok, jangan jauh-jauh. belum pacaran, ya Allaahh!)

supir angkot itu berjalan terus menuju tukang martabak dan tidak menuju pintu penumpang angkot, seperti yang kubayangkan. dua orang pencari nafkah untuk keluarganya masing-masing itu malah asyik mengobrol.

akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari angkot, mengeluarkan ongkos dan menuju supir angkot yang agak gendut. aku sudah berdiri manis didekatnya, memanggilnya, “mang, mang,” aku ditatap oleh mang itu, tapi dia malah buang muka! nggak sopan.

pikirku, karena dia sedang mengobrol dengan mang martabak, maka aku menunggu dengan baik sembari tanganku bergantung di udara dengan menggengam ongkosku. mungkin dikiranya aku adalah orang yang mau membeli martabak, kali ya, makanya tidak digubris. hmmm.

lama. sudah lewat beberapa detik. aku tak bisa lama-lama menunggu berdiri disana menunggu ada celah kosong untuk aku masuk diantara pembicaraan mereka. maka, aku memberanikan diri untuk memotong pembicaraan mereka. “Mang. ini ongkosnya.”

“Eh? ada Neng didalam teh?” ucap supir angkot itu.

artinya? aku tidak dilihat oleh supir angkot itu. (-.-) “emang nggak keliatan ya mang?” ucapku sembari senyum menahan tawa.

“Sampe disini aja Neng? Duh, maaf ya Neng.” balasnya dengan rasa bersalah.

aku mengangguk dan berjalan menuju tempat pemberhentian angkot selanjutnya yang akan aku tumpangi. aku berjalan masih dengan menahan tawa.

mungkin supirnya memang nggak lihat aku, karena aku duduk di kursi barisan supir dan agak kebelakang. mungkin perhatian supir sudah pada bapak-bapak yang turun sebelum aku dan menganggapnya bahwa dia adalah penumpang terakhir. kocak.

aku duduk di angkot yang lain dan masih dengan menahan ketawa. senyum-senyum sendiri.

ya, dalam keadaan apapun, kapanpun, kita memang harus tetap waspada saudara-saudara. apalagi para kaum Hawa.

(rasanya aku kenal dengan salah seorang dari tiga orang–tampaknya mereka berteman–yang kemarin kami pun satu angkot. ya, aku kenal mukanya tapi tidak ingat dengan nama dan kenal dimana, apakah semasa SD, SMP atau SMA) 

Advertisements

2 thoughts on “Am I Invisible?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s