Kafe di Malam Hari

Malam masih terlalu ‘pagi’ buatku. Dan disini aku dan dia berjanji untuk bertemu, berbicara santai dengannya dan diujung acara aku akan menyetakan perasaanku.
Walau aku tahu pasti, dia tahu maksudku mengajaknya ke kafe yang memang terkenal untuk Sarana Menyatakan Perasaan–mereka menyebutnya begitu.
Aku datang terlalu cepat dari waktu perjanjian.
Aku memang sengaja melakukan hal itu. Aku tak mau dia menganggapku tukang karet.
Aku masih tetap menunggunya.
Lalu, dia tersenyum manis saat matanya yang sendu menyadari akan adanya kehadiranku.
Dia berjalan pelan dan yakin menuju ke arahku.
“Permisi, ada yang bisa kubantu? Tampaknya Anda sangat membutuhkan bantuanku karena sedari tadi Anda menatapku dan keringat Anda mengucur.” tanyanya sembari menyimpan sapu tangan dihadapanku untuk kupakai sendiri menyeka keringat yang tak kusadariku mulai muncul karena tegang menunggu.
“Ya. aku butuh minuman kesukaanku, es jeruk, satu.”
Dan hingga kafe itu tutup, aku tak bertemu gadis pujaanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s