Let’s Horse !

Kali ini saya akan memperkenalkan olahraga yang mungkin jarang Anda dengar. Olahraga Berkuda. Apa? Kalian sudah pernah mendengarnya? Ok, thats ok..

Berkuda, olahraga yang menunggangi binatang kuda (iyalaaahh). well, sebenarnya saya sendiri belum pernah mencobanya, tapi sejak SMP saya sudah berminat pada olahraga yang bisa dimainkan oleh semua orang–bahkan anak balita sekalipun (dengan kuda poni (kuda kecil atau anak kuda) yang dituntun) ini. Tapi sayang tak ada media yang menyiadakannya.

Tapi jika Anda berada di sekitar, atau sedang berkunjung ke Arcamanilk, Pacuan Kuda, Anda akan menemukan lapangan yang sangat luas dan orang-orang yang  membawa kuda atau sedang berpacu lari dengan kuda mereka. SMP ku berada dekat dengan lapangan itu, sewaktu pelajaran olahraga, saya dan teman-teman disuruh oleh pak guru untuk ke lapangan itu. Setibanya disana kami menempati lapangan yang bersebelahan dengan lapangan yang lebih besar namun masih dalam jalur kuda untuk berlari. Selesai olahraga saya berada dipinggir lintasan kuda, dan sewaktu saya melihat ke arah kanan saya, tiba-tiba kuda dengan kecepatan tinggi melewati saya. Dan saya hampir kehilangan keseimbangan (bahkan waktu itu saya sedang duduk).

Sejak itulah, saya mulai menaruh minat pada olahraga berkuda ini. Minat saya semakin besar, dan berniat untuk mendaftarkan diri untuk bergabung dengan klub olahraga berkuda Arcamanik. Namun karena info yang kurang, dan tak ada yang mau mengantarkan saya untuk mendaftar, akhirnya hingga kini niat itu hanya menjadi niat tanpa ada yang melakukan.

Seperti setiap olahraga lainnya, berkuda memiliki faktor resiko. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk belajar teknik berkuda dengan benar, supaya dapat mengendalikan kuda dalam setiap situasi. Teknik yang baik dan benar juga memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi penunggangnya dan menjadikan berkuda sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Hubungan antara manusia dengan kuda sudah dikenal sejak zaman purba, seperti kita dapat melihat dari kesenian dan sastra yang berasal dari negeri Ukraine, China, Mesir, Persia dan Yunani kuno. Manusia purba memburu kuda dan menyantap dagingnya. Walaupun sulit untuk menentukan secara pasti mengenai siapa yang pertama kali menjinakkan kuda dan melatihnya untuk ditunggang, penemuan ilmiah menunjukkan bahwa manusia telah menunggang kuda sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu. Suku Yunani dan Romawi kuno merupakan ahli tunggang dan menggunakan kuda untuk pacuan dan olahraga. Tentara Yunani dan Romawi menunggang kuda dalam perang, dan suku Yunani (Xenophon) menulis tentang prinsip-prinsip berkuda sedini 400 S.M. Hingga kini prinsip-prinsip mereka masih digunakan untuk berkuda. Pada zaman Renaissance, banyak bangsawan mendatangi sekolah menunggang besar di Eropa untuk belajar seni tunggang. Akademi berkuda pertama didirikan oleh Federico Grisone 1532 di Napoli, Itali, kemudian pada akhir abad 16 sebuah akademi equestrian berkembang di Versailles, Perancis, tetapi kemudian menghilang karena revolusi Perancis. Sebuah sekolah menunggang “kuno” yang bertahan hingga kini adalah Spanish Riding School yang didirikan 1572 di Wina, Austria. Sekolah kavaleri Perancis yang didirikan 1768 di Saumur, dengan pakar Pluvinel dan La Guérinière, juga memberikan kontribusi besar kepada seni equestrian modern, terutama Dressage/ Tunggang Serasi. Olahraga berkuda yang kita mengenal di zaman sekarang, berkembang pada bagian kedua abad 19.

Beberapa atlet nasional Denis Christian, Reshy Radinal, Alisa Gading, dan Fery Ferdianto. Mereka adalah atlet berkuda berprestasi di negeri ini. Seorang rider (penunggang kuda) memerlukan tanggung jawab besar, kerjasama, disiplin dan komunikasi yang baik dengan kuda yang ditungganginya. Untuk itu, perawatan kuda menjadi bagian penting olahraga ini. Dalam merawatnya, dituntut punya kesabaran dan rasa penyayang tinggi terhadap seekor kuda, sehingga penderita ketergantungan narkoba bisa mengalihkan pikiran ke arah yang lebih positif.

Untuk mendapatkan atlet berkualitas perlu dilakukan pembinaan dari usia dini. Reshy Radinal misalnya, mengaku sejak kecil telah dididik ayahnya untuk mencintai olahraga berkuda.

Memang untuk menemukan suatu bakat, diperlukan pembinaan dari kecil. Dan jangan sampai terlambat. Namun tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s