IELTS Itu… Harus Positif,

Jadi kalian tahu? IELTS itu dibutuhkan untuk melamar sekolah lebih lanjut dan kebanyakan untuk di bagian Eropa. *tentu saja. Sebelumnya saya peringatkan, di post ini saya tidak akan menceritakan seperti apa tes IELTS itu, tapi pada pengalaman saya yang dari tidak tahu seperti apa IELTS itu sama sekali hingga mengikuti tes internasionalnya.

(Aku sengaja memakai bahasa Indonesia, sehingga kalian tidak tahu betapa bodohnya naifnya keinginanku untuk lanjut sekolah ke luar negeri.)

Hm, mungkin karena niatku memang sudah salah ya, jadi jalannya pun walau terbuka tapi tetap saja banyak rintangan yang menghadang… Rintangannya lebih banyak dari dalam diriku sendiri, tentu saja.

Aku suka, ingin, butuh untuk tinggal di luar negeri.

Itu alasanku.

Lebih awal lagi malah, ‘bagaimana caranya aku bisa tinggal di luar negeri tanpa harus kuliah’. Karena pada dasarnya saya bukan orang yang gemar belajar–membaca suka, tapi tidak suka bila ‘disuruh/dipaksa’ dan presentasi. Oh, please. Itu membuatku searching dan menemukan beberapa cara/pekerjaan untuk bisa tinggal di luar negeri. Namun sayangnya, hampir semuanya berhubungan dengan pelayanan jasa… Sedangkan aku sangat sulit untuk melayani orang (ke orang tua aja masih suka ngeluh apalagi ke orang asing). Lalu hal ini buntu dan hanya mengarah ke kuliah saja. Akan tetapi, di akhir tahun itu, aku mendapat email seleksi untuk menjadi Calon Pegawai Setempat (baca post ini untuk tahu informasi lebih lanjut–another depressing story) dan itu membuatku sangat bersemangat, bergairah. Itulah jawaban atas keinginanku… Namun sepertinya Allah berkehendak lain karena hampir setengah tahun seleksi dan menunggu, saya tidak dipilih untuk menjadi pegawai setempat.

Sehingga pilihan jatuh ke kuliah kembali. Les lagi. Persiapan lagi.

Akhir tahun 2017 pertama kalinya aku les di IEDUC… Sekalian cerita ya, saya senang les di sana dari semua pelayanannya; dari pelayanan di front office (saya orangnya sangat memikirkan efek dari semua pilihan yang datang padaku sehingga itu membuatku jadi penuh perhitungan dan yha ok, plin-plan, tapi mereka, atau dia lebih tepatnya, melayani saya dengan sabar dan itu, ketika saya sadari, hampir satu jam setengah! Lalu kalau ada sesuatu yang urgent dan sulit untuk diungkapkan mending ketemu offline saja), guru-gurunya (ciamik sekali, ada yang fokus ke buku pelajarannya, bercakap-cakap mengenai pelajarannya berdasarkan pengalaman mereka + membangun kepercayaan diri (!) (walau kurang berhasil untukku), menanyakan kesiapan dokumen kami, menyediakan informasi beasiswa, melayani sesi ‘curhat’ di luar kelas, dll… Perlu kah aku menyebutkan adaa aja guru muda yang ganteng *eh), dan alhamdulillah aku mendapat teman-teman baru yang cocok untukku dari dua kali mengikuti kelas itu.

Balik lagi ke cerita awal… Selesai kelas selama sebulan, setiap hari, selama tiga jam itu aku masih merasa kurang percaya diri untuk langsung mengikuti tes internasional sehingga berbulan-bulan kemudian berlalu dan ilmu-ilmu yang kudapat pergi melayang.

Desember-Januari sibuk dengan hal lain. Berlanjut ke bulan Februari 2018, aku mengikuti kelas persiapan IELTS untuk ke dua kalinya setelah 5 bulan berlalu sejak persiapan pertama.

Selama sebulan, aku mendapat teman-teman yang pintar-pintar membuatku tak membandingkan diriku dengan mereka tentu saja karena itu hanya akan tambah down. Tapi membuatku bersaing dengan mereka… Bila pada orang-orang lain, mungkin ceritanya akan sangat positif ya; belajar lebih giat dan mendapat nilai yang bersaing dengan mereka… Aku? Bersaing, iya. Usaha tambahan? Tidak.

Yeah, yeah, tidak ada yang disalahkan kecuali diriku sendiri.

Aku merasa saat kelas persiapan pertama dengan nilaiku yang selalu dua teratas merasa ‘dengan berjalannya waktu pasti nilaiku nambah’ seperti yang memang selalu terjadi, namun yang terjadi di kelas persiapan ke dua itu… aku selalu mendapat nilai yang konstan… kadang posisi ke dua atau ke tiga dari bawah.

Aku menyadari hal ini dari minggu-minggu awal kelas, sudah ada perasaan seperti itu. Tapi aku tidak melakukan hal tambahan apapun untuk mengubahnya. Walau, untuk pembelaan, aku lebih rajin dalam mengerjakan peer-peer yang diberikan setiap harinya… Tapi tidak ada perubahan. Dan seperti orang bodoh, setelah aku baca-baca kembali komentar dari para guru, aku selalu berulang kali melakukan kesalahan yang sama. I wanna cry here.

Well, at last, kelas persiapan selesai dengan kepercayaan diriku yang minus… dan hal ini terbawa hingga tes internasional yang mahal itu. (biaya les-nya pun mahal).

Pasalnya karena minggu depan (saat itu) pernikahan kakakku (aku akan selesai dengan segala ke-negatif-an ini dan beralih ke momen bahagia!) aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk tes internasional sehingga tanggal yang pas untukku adalah minggu yang sama ketika kelas persiapan selesai. Daan aku kebagian tes speaking di hari yang sama dengan hari les persiapan berakhir; les berakhir pada jam sebelas karena saat itu hari Jumat, jam setengah satu tes speaking untuk final test dari tempat les yang di majuin, pukul setengah dua pergi ke tempat lokasi tes (dengan sisa-sia linangan air mata, aku malu dengan gurunya), sampai di tempat pukul setengah tiga (atau jam 2 ya?) karena terlalu cepat, saya kebagian tes pukul 4 sore, akhirnya saya mencari makan sembari menenangkan diri. Pukul tiga lebih saya kembali ke tempat tes dan berniat untuk menunggu di sana saja.

Eh ternyata ketika saya daftar ulang, tidak ada orang lain di sana kecuali satu orang yang sedang menunggu untuk di tes. Akhirnya saya ditawari untuk langsung tes setelah orang itu (yang ternyata satu almamater kampus) yakni pukul tiga. Ya wis, saya terima tawarannya, toh ditunggu lebih lama pun saya yakin tidak akan ada perubahan. Saya sudah lebih tenang saat itu.

Dan masih tenang sampai duduk di depan orang yang menge-tes-nya (cantik parah Tetehnyaaaa! Saya saja yang cewek kagum sama beliau. Wow) eh begitu  dikasih pertanyaan dan mau menjawab… baru deh, kacau balau. Semua tip-tip yang sudah diberikan oleh para guru hilang sudah. Tapi Tetehnya baik banget sih.

Guru-guru di tempat les itu selalu memberikan keadaan yang terburuk untuk para muridnya dapat mempersiapkannya. Tetapi yang terjadi padaku, hal-hal buruk itu tertanam padaku dan aku tahu bagaimana mengatasinya… namun ketika pada hari H, saya mendapat keadaan yang baik-baik saja, bagus malah, saya malah tidak tahu harus bersikap bagaimana. Bodoh memang.

Lanjut keesokkan harinya, tes listening, reading, dan writing. Yang mengesalkan, dan ternyata sama dengan orang yang satu almamater itu, ada satu section listening yang SAMA SEKALI nggak kedengaran. Kesal sekali. Bukan speakernya–seperti yang terjadi di tempat tes lainnya–tapi memang si speaker cowoknya kayak berkumur.

Lanjut ke section reading… lumayan. Aku memang suka baca tapi tetap saja sedih karena nilainya tidak sesuai harapan.

Writing? Sama keadaannya seperti speaking. Kacau balau, otaknya di amuk angin halilintar.

Menunggu dua minggu tidak membuatku getir atau deg-degan secara berlebihan namun aku sudah yakin nilaiku akan kecil, “semoga minimal dapat 5,” inginku.

Walau di ujung otakku, aku ingin dapat 6.5, sesuai dengan nilai minimal dari jurusan universitas incaranku.

Aku mendapat nilai di tengahnya.

Antara kecewa dan ‘lumayan’.

Tapi tetap saja kesal dan kecewa… karena setelah itu aku harus bagaimana lagi? Umurku sudah tua, batas maksimal untuk orang yang mau melamar pekerjaan dan apalagi aku tidak punya pengalaman kerja apapun. Masa aku masih harus memakai uang orang tuaku untuk membiayai les-ku (lagi!?) dengan nilai yang tidak memuaskan.

I really wanna cry, dissapear here.

Mungkin aku memang harus mengikuti keinginan ibuku? Dari awal ibuku ingin aku bekerja lalu kuliah. Kuliah pun di Indonesia saja, “S3 saja di luar negerinya”.

Kan nggak mau ya. Kalian pasti ngerti alasanku. Pasti sama dengan kalian.

Tapi bagaimana lagi, dengan semua usaha yang tidak seberapa dan hasil yang begitu… mungkin doa dan keinginan ibu dan ayah itu memang segalanya. Beliau-beliau orang yang baik dan sangat kuhormati.

Tapi dengan umur dan pengalamanku yang tidak ada? ………… mari menangis?

 

 

Well, satu hal yang aku sadari namun sulit untuk dilakukan adalah ke positif-an dari dalam diri kita. Kepercayaan diri. Tidak perlu sampai, ‘aku bisa mencapai nilai segini,’ tapi minimal ‘tak apa, lakukan saja’ akan memberikan perubahan dari dalam diri kita.

Itu yang berbeda dari ketika aku pertama mengikuti kelas persiapan pertama dan kedua kalinya. Saya lebih ada positifnya ketika di les pertama–mungkin karena belum tahu apa-apa… yang membuat saya bertanya-tanya, apa hasilnya jika aku mengikuti tes internasional langsung setelah selesai les persiapan pertama itu.

Well, mungkin ini bisa jadi pembelajaran untuk kalian yang mau persiapan IELTS… walau saya yakin tidak ada gunanya dari segala ke-negatif-an ini namun baru saja saya dan ibu saya bersepakat, “pasti ada manfaatnya dari segala yang terjadi.”

 

Aamiinnn.

Nona.

Advertisements

Oh, hello 2018!

Please be kind to me this whole year… another months of unemployed. And age is keep increasing (?).

Sigh.

Ada link kerja? Tulis di kolom pertanyaan yaaaaa *maksanggakmaksakok *ehe

:’))

Note for myself: I want to write about my experienced with IELTS… but I guess, I’ll write it in depression after I’ll get my result of–terrible, I know hiks–international test. :’)

Sebuah Cerita Pegawai Setempat (Yang Gagal)

Ya, gagal. Sampai tulisan ini saya post, saya tidak menerima email untuk pembekalan seperti rekan-rekan saya yang lain. Jadi kalau kalian merasa tulisan ini tidak bermanfaat bagi kalian, monggo di close aja lho yaa.

Jadi, saya pernah melamar sebagai Calon Pegawai (bukan negeri) Setempat. Yak, bukan CPNS tapi CPS. Bagian dari negara tercinta ini dan berkaitan dengan para petinggi negara di luar negeri tapi tidak diakui sebagai bagian dari pemerintah negara.

Hmm, kita bahas itu di lain waktu saja ya.

Di sini saya bukan mau menjelekkan CPS ya, sama sekali tidak. Saya malah MAU SEKALI sebagai salah satu pegawai setempat di KBRI/KJRI Indonesia di luar negeri. Saya ulangi, MAU BANGET, tambah SSSZZZ dah  *iuh alay ahahaha.

Well, lanjut ke intinya ya. Saya mau cerita sejak saya kirim berkas hingga email terakhir yang saya dapatkan. Here we go…

Saya dapat informasi mengenai pembukaan Pegawai Setempat (selanjutnya jadi PS ya) ini dari omongan saudaranya saudaraku yang memang pernah jadi PS juga–atau entahlah, saya juga kurang tahu mengenainya. Maafkan ‘Te.

Saya kirim berkas-berkas itu sekitar di pertengahan tahun 2017 (kalau ingatan saya benar ya, saya kurang yakin juga; entah awal tahun atau malah akhir tahun 2016). Cukup mudah berkasnya, hanya tujuh macam lalu saya kirim melalui pos. Setelah itu saya tidak mendapat kabar selama berbulan-bulan (ingat kata-kata ini akan terus diulang-ulang–bye nilai besar Writing) hingga saya lupa. Kejadian seperti ini sering banget ya dialami oleh para Job Hunter. *ketawaketir.

Akhirnya e-mail pertama itu saya dapatkan pada Rabu, 9 Agustus 2017 yang mengundang saya untuk Tes Pertama yang dibagi menjadi dua bagian; Tes Pengetahuan Umum dan Bahasa Inggris (yang aku yakin aku buruk sekali dalam mengerjakannya, banyak kata-kata yang aku blank bahasa Inggrisnya) serta Praktik Komputer (yang buruk juga mengerjakannya, satu soal sama sekali tidak terkerjakan(?)). Tes diadakan selama dua hari ya. Untuk saya yang bukan orang Jakarta, saya harus meminta hati teman-temanku yang sudah kerja lebih dahulu untuk dapat menumpangku. Wayahna, nasib Job Hunter, ya kan?

Berminggu-minggu tidak ada kabar. Lalu hingga tepat sebulan kemudian lebih satu hari, saya dapat e-mail untuk Tes Kedua; Tes Tulis Psikiatri dan Wawancara Psikolog yang diadakan dua minggu kemudian. Pada saat itu saya baru pertama mendengar yang namanya ‘psikiatri’. Saya searching ke mana-mana, berbagai sumber dan website, hanya menemukan kalau itu berhubungan dengan, maaf, orang gila. Orang tidak waras. Dan memang Tes Kedua ini diadakan di RS Penyakit Jiwa (nama tepatnya saya juga lupa ehe)… kaget saya juga. Saya sampai mendatangi saudara saya yang seorang HRD untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tes-tes psikotest (yang saya selalu gagal melaluinya huhu). Eh ketika hari H, yang namanya tes psikiatri itu sangat berbeda dengan tes psikotes yang biasa dijabani di kantor/perusahaan swasta gitu. Kita harus menjawab hampir 100 pertanyaan (atau sudah mencapai ya? Maafkan short memory ini yak) selama dua jam (… sepertinya). Setelah itu kami semua menunggu secara bergiliran untuk di wawancara dengan seorang psikolog–seorang dokter kejiwaan. Kece. Wawancara sama sekali nggak berkesan menilai jawaban kita, seperti seorang pasien yang sedang berkonsultasi saja dengan dokternya… dengan dokter yang lebih banyak menanyakan pertanyaan sih. Rame deh pokoknya. Nggak perlu deg-deg-an ya, karena percuma :’)

Tes Ketiga nih yang ‘lumayan’ perlu deg-deg-annya. Ehe. Tepat sebulan lebih dua hari kemudian, saya kembali dapat e-mail untuk Tes Wawancara Pendalaman dan Bahasa Asing. Untuk kalian yang sudah cas-cis-cus bahasa asing dan sudah banyak pengalaman dalam interview, kalian aman. Pertanyaan tidak jauh dari yang biasa ditanyakan di kantor/perusahaan lainnya, tapi di sini jelas terlihat bahwa satu orang berpegang ke daftar pertanyaan sedangkan yang lainnya nanya lebih dalam dari jawaban kita. Orang ke tiga? Nanya bahasa asing kita. (di notes-ku, ada tulisan “I destroyed the introduction in English” nah loh,  saya saja perkenalan kacau, makanya kalian pasti bisa!

Hampir dua minggu kemudian, rasa khawatir saya terpuaskan. Saya mendapat e-mail pemberitahuan bahwa saya di calonkan untuk ditempatkan di KBRI S (hm, saya juga bingung, apa baik untuk saya tulis di sini nama kotanya dan karena saya nggak yakin, jadi saya samarkan saja ya). Bukan KBRI pilihan saya, sayangnya, tapi masih bersemangat dan membayangkan bagaimana saya akan bekerja dan hidup di bagian Amerika sana. Kesalahan besar.

Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang bersama orang tuaku. Saya dengan semangat memberitahukan kabar bahagia itu (ya, saya lebih bahagia saat itu dari pada di ‘tembak’ teman *eh) dan langsung membalas kesediaan saya untuk ditempatkan di sana.

Hari berganti hari, berganti bulan. Pertengahan Desember, Diklat I di mulai.

E-mail pemberitahuan untuk wawancara dengan pihak dari KBRI S tidak kunjung datang. Hingga pertengahan Januari 2018… tahun sudah berganti, di mulainya Diklat yang kedua.

Akhir Januari, di grup CPS datang informasi bahwa KBRI S menolak semua calon CPS yang diajukan kepada mereka.

Down saya di sana. Dan saya yakin, rekan-rekan saya juga seperti itu. Untuk informasi, secara keseluruhan, interview untuk daerah Eropa dan Amerika selalu yang paling akhir datang dibanding negara yang lebih dekat dengan Indonesia ya.

Para SDM mencarikan tempat lain untuk kami–saya dan CPS KBRI S dan juga rekan-rekan lainnya yang ditolak juga oleh KBRI lainnya (karena sudah dapat PS-nya). 9 Februari 2018, saya dapat e-mail untuk ditempatkan di KJRI P, Australia. Hm, jauh dari keinginan saya sebenarnya, tapi orang tua cukup lega kalau saya kerja di sana, lebih dekat dari Indonesia.

Tapi apapun akan saya jabani untuk dapat bekerja untuk Indonesia dan di luar negeri–selain TKI walau… Oke lewat.

Bodohnya saya, karena sudah biasa di PHP berbulan-bulan oleh para home staff (staf tetap KBRI/KJRI/dll) saya tidak menyangka bahwa, saya ingat sekali, sehari sebelum libur Imlek ada e-mail untuk wawancara langsung di Jakarta dengan pihak langsung dari KJRI P, yang sedang pulang ke Indonesia dan akhir minggu itu akan kembali lagi ke tempatnya bekerja. E-mail itu datang seminggu setelah e-mail penawaran untuk ditempatkan di KJRI P… yang tercepat dari e-mail sebelum-belumnya.

Tapi mungkin memang ada rencana yang Allah buat kali ya. Malam sebelumnya saya buka laptop untuk mengerjakan pe-er bahasa Inggris (dari tempat les, saya sudah selesai sekolah) dan kepikiran untuk buka internet, eh tapi saya mikir, “ah, nanti pe-er-nya malah keteteran kalau browsing internet.” Tidak dibuka lah itu internet yang pasti langsung buka akun e-mail saya. Mana HP saya lagi error atau apa, notifikasi e-mail tidak ada yang muncul. Pada pagi harinya hari interview, tumben sekali saya bangun lebih telat dari biasanya. Saya buru-buru untuk datang ke tempat les, yang ternyata tidak telat. Parahnya lagi, saya tidak ada kuota internet dan ketika terhubung ke wifi tempat les sembari menunggu kelas di mulai, saya buka e-mail. Dalam judul bold undangan untuk interview ke Jakarta pada hari itu pukul setengah dua siang.

Saya langsung teriak di kelas, tidak memedulikan tatapan heran teman-teman. Saya langsung telepon ibu saya yang langsung ditanggapi, “ya sudah, pergilah.” Dapat restu dari ibu, saya langsung kembali pulang untuk bersiap-siap dan menelepon agen-agen travel. Hanya satu agen yang terhubung. Berada di jalan Suci. Ada info untuk ke daerah Jakarta Pusat katanya, saya langsung caw ke tempatnya. Tetapi setibanya saya di sana, sekitar pukul jam 10 pagi, ternyata travel yang dari Jakarta Pusat itu belum datang, “dari subuh berangkat dari Jakartanya belum datang juga,” katanya.

Deng deng. Bukan, bukan makanan.

Well, saya tanya-tanya lagi. Akhirnya si teteh agen bilang ada travel yang akan berangkat ke Jakarta Utara (kalau nggak salah, pokoknya jauh dari tujuan saya, saya tahu itu juga di tengah-tengah perjalanan). Pokoknya sampai dulu ke Jakarta, saya pikir begitu ketika itu. Berangkatlah saya dan orang-orang lain. Kabar buruk lagi, tol pada saat itu sedang penuh-penuhnya. Sekitar pukul 12 siang atau setengah satu, saya kirim e-mail ke HRD untuk memberikan pilihan untuk saya yang masih dalam perjalanan. Masih jauh dari tujuan. Entah kenapa, selama perjalanan itu, saya yang biasanya nervous kalau mau wawancara dan membayangkan jawaban dari perkiraan pertanyaan (satu hal lagi, saya tidak bisa menemukan catatan jawaban yang biasa saya pegang ketika saya cari di rumah), saya sama sekali tidak berminat untuk memperkirakannya. Saya hampir tidak tegang walau kepikiran itu pasti. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya seperti mati rasa di sana.

Sekitar pukul setengah dua siang, perkiraan waktu sudah mulai wawancara, saya mendapat telepon dari HRD-nya secara langsung. Menanyakan posisi saya di mana (baru masuk Cikampek yang macetnya subhanallah) dan memberikan tiga pilihan kepada saya (saya datang langsung wawancara / saya datang tunggu pewawancara menyelesaikan acaranya yang lain / wawancara di hari lain… apapun itu saya sangat berterima kasih dan penantian saya selama berbulan-bulan tidak sia-sia begitu saja di tahap yang paling akhir ini).

Di sana saya terus meminta pertolongan dari rekan saya yang juga dialihkan ke KJRI P ini… teman saya ini menjadi salah satu yang dipilih oleh KJRI P. Selamat mas!

Saya sampai sekitar pukul setengah 5 sore di Jakarta. Saya turun bukan di perhentian terakhir travelnya. Di sana saya pikir akan mudah, walau mahal, bisa pakai ojek online. Eh saya datang pas orang-orang pulang kerja dan akan pergi untuk pulang kampung. Di sana saya belum teringat bahwa besok libur nasional. Berlama-lama saya memesan ojek, tidak kunjung dapat juga. Hingga saya hapus aplikasi di HP saya untuk meng-install aplikasi ojek online lainnya yang kata orang sekitar (ya, saya mengobrol dengan mang-mang ojek yang sedang menunggu anaknya pulang sekolah) lebih mudah untuk dapat driver-nya. Belum selesai download-nya (oh ya, saya sampai melibatkan teman ibu saya untuk membelikan saya pulsa dulu untuk beli kuota internet) saya bertatapan dengan mang yang sedang makan. Eh. Dia mengisyaratkan, “ojek, neng?” (perhatian: saya tidak ingat bagaimana dia memanggil saya, tapi karena lebih enak dan biasa dengan bahasa seperti ini, jadi saya lanjutkan saja ya). Dia adalah opang–ojek pangkalan. Saya tanya apakah bisa mengantarkan saya ke [alamat]. Dia malah nanya lagi ke tukang buah sebelahnya. Ketika satu kata kunci dia kenal, dia bilang, “wah jauh itu, neng.” Setelah beberapa saat berdiam, saya masih menunggu download-an selesai, mungkin karena melihat wajah saya yang nestapa, dia melakukan penawaran, “gocap ya neng?”

Buset. Saya langsung menyetujui *eh. Ahahaha ini beneran ya, saya nggak nawar-nawar lagi. Pergilah kami, berkendara di penuhnya Kota Jakarta. Di sana dia nanya-nanya, saya jawab-jawab. Yha, biasa lah. Lalu mang-nya yang nggak tahu jalan tujuan saya, nanya-nanya di mana-mana sampai saya di SMS lagi untuk tahu posisi saya. “Oh, sudah dekat kalau begitu ya,” itu balasan dari HRD. Oh sudah dekat ya? Kata saya dalam hati, mana tahu jalan di Jakarta. Di tempat asal saja saya bisa tersesat di jalan baru.

Well, yang pasti saya sampai di tujuan dengan disertai semoga berhasil dari mang opang (makasih mang walau nggak berhasil dan kepada mang-mang ojol–Ojek Online yang sudah mendoakan keberhasilan saya dari pertama tes dan tes-tes saya lainnya di Jakarta *eaa). Saya menunggu HRD tersebut untuk menjemput saya di resepsionis (pakai ada acara saya sulit menemukan KTP saya untuk ditukarkan dengan kartu tamu lagi) dan naik ke lantai 6 untuk wawancara. Sambil menunggu lift, ditanya oleh HRD itu apa yang terjadi–dari HP saya yang tidak memunculkan notifikasi hingga yang selama di jalan tol, yang sudah macet karena pembangunan itu, kalian tahu lah ya, banyak pula kecelakaan, dua kecelakaan mobil terguling-guling di tempat berbeda dengan sirene polisi dan ambulans yang silih berganti. Ini sungguhan ya.

Setelah menunggu beberapa saat, menunggu pewawancaranya siap menerima saya, saya ingat dibilang,

“Duduk aja dulu, Mbak.” Ucap HRD (yang kata rekan-rekan ganteng… eh atau itu HRD yang lain? Entah).

“Kan sudah duduk selama berjam-jam tadi,” balas saya bercanda.

Dia tertawa. Saya senang bila dapat membuat orang tertawa. Ehe.

Well, akhirnya saya dipanggil dan masuk ke ruangan yang sama ketika saya wawancara dengan para HRD namun kini hanya ada satu interviewer. Aw. Di sana saya buat diri saya lepas dulu dari mati rasa yang saya rasakan selama di perjalanan. Daann, satu hal yang saya senang adalah kata pertama yang Mr. B (orang Indonesia tulen tapi anggap saja begitu, saya masih ingat namanya karena sama dengan nama teman saya ahahaha) katakan kepada saya adalah, “saya sangat apresiasi Anda sudah bersedia jauh-jauh dari Bandung ke sini,” (dalam bahasa Indonesia, kira-kira begitu) (harusnya dari sana saya sudah mengerti, kalau saya tidak akan dipilih. Ah tidak. Jangan seperti itu, Nona. Mungkin karena saya terlalu jujur dan tidak memilih-milih kata-kata yang lebih sesuai untuk mendapatkan pekerjaan itu… Oke, ini hal melenceng lainnya).

Wawancara selesai ketika adzan Maghrib terdengar. Lalu pertanyaan saya ajukan, kami mengobrol santai setelahnya. Mungkin karena sudah waktu pulang dan di tempat kerja itu hanya ada beberapa orang saja yang masih tinggal, salah satunya HRD yang bertanggung jawab atas saya itu. Terima kasih Mr. B dan Pak/Mas HRD atas waktu kalian.

Seluruh tahap untuk menjadi CPS sudah saya lewatkan semua. Alhamdulillah.

Saya mau cerita lagi ya bagaimana saya pulang ke rumah tersayang.

Jadi dari awal keberangkatanku itu aku sudah berkomunikasi dengan sahabatku yang kerja di Jakarta Selatan. Darinya saya tahu kalau tempat travel dan tempat wawancara itu jauh sekali. Darinya aku dapat ketenangan. Darinya aku dimudahkan dalam mencari tempat tidur. Darinya aku diringankan, berbeda dari diriku yang ribet. Terima kasih, sahabat.

Rencananya, selesai wawancara itu saya ingin sekali langsung pulang. Biarlah malam sekali, yang penting bisa tidur di kamar sendiri. Tapi memang ada saja ya dari pagi hari itu. Yang biasanya travel itu ada saja yang kursi kosong, malam itu sudah penuh semua. Di semua jam. Mencari ke travel lain membutuhkan waktu lebih lagi untuk ke agennya dan saat itu sudah jam tujuh malam, di mana hampir semua travel pasti sudah terisi. Saya mengontak sahabat saya itu dan dibilangnya untuk menginap saja dari pada mencari travel lainnya. Tapi karena dia masih ada kerjaan, jadi saya harus ambil kunci kosannya dan menunggunya sendirian. Tak apa, saya sudah beberapa kali menggunakan jasa kosannya untuk numpang tidur *ahahaha. Memang pada keesokkannya pada hari itu, dia juga akan pulang ke rumah menggunakan kereta yang sudah beli tiketnya sebulan yang lalu. Akhirnya saya sadar kalau besok Imlek dan semua ‘tamu Jakarta’ pulang kampung. Dasar.

(Begitu inginnya saya pulang malam itu juga sebenarnya, sesampainya saya di kosan teman saya, saya langsung menelepon orang tua saya. Video Call, yang saya sama sekali tidak pernah mau menggunakannya. Saya hampir menangis ketika memberitahukan kepada mereka saya harus menginap semalam tanpa direncanakan. Tentu saja mereka juga akan menyarankan seperti itu bila keadaannya seperti yang saya alami.)

Saya mengobrol terus dengan sahabat saya ini hingga pukul tiga pagi, menemani dia menyelesaikan kerjaannya. Tanggung karena mendekati waktu keberangkatan keretanya, akhirnya dia tidak tidur dan langsung jatuh tertidur selama perjalanan Jakarta-Bandung. Pukul tujuh pagi saya dibangunkan oleh telepon dari ibu saya dan saya langsung bersiap untuk ke agen travel. Travel yang berbeda dari yang malam itu. Intinya, di jadwal seharusnya saya pergi jam 11 siang namun saya pakai sistem booking, di mana ketika ada kursi yang kosong, saya bisa langsung naik. Saya kebagian satu jam lebih awal namun entah kenapa, pengemudinya lama sekali untuk berangkat hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 11 siang baru berangkat. Haarr~

Perjalanan pulang saya memakan waktu tujuh jam dan itu karena travel saya kebagian untuk menggunakan counter flow–istilah yang saya baru tahu ketika menggunakan satu jalan dari arah berlawanan. Travel saya malah mendahului travel yang berangkat subuh tadi. Wow. Alhamdulillah saya tidak ngotot untuk pulang subuh.

Keesokkannya, kemacetan itu menjadi headline di koran lokal saya; JAKARTA-BANDUNG 10 JAM. Alhamdulillah, saya tidak separah itu walau di rest area, si pengemudi istirahat hingga hampir setengah jam. Tidak apa, demi perjalanan nyaman dan aman, benar?

Jadi begitulah cerita Calon [Gagal] Pegawai Setempat dari saya. Mungkin ini bisa menjadi gambaran untuk orang-orang yang memiliki keinginan seperti saya (info: ketika saya masih menunggu untuk pemberitaan dari KJRI P, yang sekarang sudah ada; 2 orang yang lolos, Senin berikutnya Tes Pertama sudah dimulai lagi untuk tahun ini. Semangat adik-adik! *ceileeh).

Ingat, kesabaran adalah kata tengah dari Pegawai Setempat.

Kalau ada yang hendak ditanyakan, lempar saja pertanyaannya di kolom yang sudah disediakan ya. Ketika ada notifikasi e-mail… eh sudah benar belum ya HP-ku? Ya, nanti juga akan saya balas kok *wink.

Thank you!

Regard,

Nona.

… Another Story(ies)

Hello there, internet (without any people read it) pals–read: cables and satellite of internet signal. Literally.

Well, if you (a.k.a cables and satellite again) read previous post then you know that I already been to Batam, Indonesia… I wanna to tell you something real; today, this second is December 15, 2017, 8:46 PM Indonesia time… and in middle of November I’ve been to Padang, Indonesia.

Gosh, and there isn’t any motivation to write anything about those trips (should I change my blog’s name to Unfinished Blog?). One thing for sure, those trips were really my treasures; especially the last trip, I went there with my whole big–I mean VERY big family. My brothers and sisters from my Dad all is came, plus one sister from my Mom… and they were brought their wifes (?) and husbands (whom still alive).

But those aren’t what I want to write tonight.

I’m listening to Tonight by Westlife.

Yes. Westlife. Are you (hello cables and satellite) still remember that boyband?

Westlife is from Ireland… and I LOVE THEM. I knew them when I was in my primary school and ’till now, like for 20 years and more. I’m pretty sure, in my country, those boyband is more popular than Backstreet Boy or Boyzone or another boyband… Or maybe that cause every kids in my circle is also like them. But not like me and my friend, D. We’re really crazy about them.

I wanna make confession to you (yes, again you cables and satellites), I know Celine Dion because Titanic is really big as also the song. But I refuse to watch those movie back then–ups, as I recall, I never watched it as a whole movie until now. Teehee.

Well, in my first of my status as Pengacara* (PENGangguran banyak aCARA a.k.a unemployment but have many events) accidentally I listen to one of another songs she had and I fell. I fell in love with her songs.

Even though I don’t know ALL of her song (or ALL of Westlife’s songs, even I recently knew that Beautiful in White is from Shane, though I know his voice was really familiar to me when I first listen to it), but I REALLY like her songs in English or in French. She has that voice, you know. That dramatic voice while Westlife have dramatic music… Of course same with Celine Dion.

Oh, it’s never end to write I love dramatic song and voice moreover from them… And all of it is, my opinion that is, meaningless. *sigh*

I love dramatic songs from Celine Dion:

  • It’s All Coming Back to Me   (OH YES!)
  • I Surrender   (YEAH!)
  • That’s The Way It Is
  • Be The Man
  • I’m Alive
  • AND MANY MORE

I love dramatic music (and lyrics) from Westlife:

  • Beautiful in White
  • My Love   (Once again, YEAH!)
  • If I Let You Go
  • You Raise Me Up
  • Tonight
  • AND MANY MORE

And of course, if you talk (or write) about dramatic song, you can’t forget about Whitney Houston. I really love her songs:

  • I will Always Love You
  • I have Nothing
  • (I wanna say ‘and many more’ but I have to honest to my self… I don’t really know about another songs by her. I’m sorry Whitney Houston’ fans. If you have a (or two or three or 200) song(s) that “seriously, you have to listen to this,” you say, just leave a comment and I’ll search it!

((….. seriously. Even though I know that only cables and satellites which read my post…))

Beside those three singers, of course THERE ARE many, many, many more dramatic songs that I adore, from diverse singer; man and woman but one thing they have similarity is they were old song. Songs that my Dad and Mom usually listen, and yeah, I prefer those songs and nowadays songs–although I listen to them too as a music lover despite my interest to those never last long.

What else…?

Hm, my reading-appatite is haven’t come back, but when I’m in travel, it came. In house–which place I always spent my precious time with doing nothing I WANNA CRY HERE–it come very seldom as I always prefer to read manga (a.k.a Japanesse comic) or watch Korean reality show, Running Man.

OH! Let’s move on to that subject, Running Man. I LOVE THAT SHOW. I mean, I always change the channel when it comes reality show in my country… But what happens with them? Why I felt disposed to bought kuotas to watch them online with streaming system? Why they’re so special? Though Indonesia have a similar game show which is X Game (or something? I’m not really remember but the main member is from comedian group, Bajaj and many others comedian artist) ok, I have watched them and yeah, sometimes I don’t got bored and laugh cause of them… but unfortunately, most of times, I got bored and if I don’t turn my TV’s volume a pretty high, I can’t heard what they spoke (and maybe, regardless this reason, I read subtitle while I watched RM). I felt Indonesian jokes is too much for me. They’re really harsh, ALTHOUGH (I have to fair in this) Korean jokes is harsh either, while Indonesian have delimiter that unspoken, Islamic rules.

The world knows that Korean is really emphasize their looks, and sometimes, in my opinion, they really bearish with it–let’s say when Haha jokes about Gary’s look, he said that Gary’s face is same with dried squid… which that is term for the ugliest from ugly standard. Ok, ok, and when my Mom said, “Indonesia is rude too about looks.” and yeah, that is true. Everybody always comment about another people looks and really concern about their look and how to became more than what they have.

Of course, I wouldn’t say it was wrong. Me, as a fashion lover (meh), pay attention to how I dressed, my make-up, and my attitude. They said, “do not judge people from outside,” but when you first met someone new, outer-self is the first ever people saw. First impression. How else you want to convince your HRD?

Aw, look at those, becoming very long, meaningless words (or should I change this name’s blog to Meaningless and Stupidity Words of Blog?) and the time is 10:05 PM.

I want to sleep… after read yaoi manga first, I think.

No. I will.

Ah.

Bye, for now. See you again at depressing time, Cables and Satellite of my Internet.

 

… Nona.

*Sigh.

It’s Already Mid 2017!

Well, this post would be my first post in 2017… and this already in June!

Gosh! What did I do with my life ’till now? Nothin’. I’m NEET* now, I’m cryiingg! (I’ll make sure to not be a shut-in NEET, tho, ’cause these days I already felt that house is the “safest” place. Of course. Yes.)

Many people… well the last person who asked me this question is teacher in my course (and I don’t really like him, shh)… asked me, ‘what would you do in next 6 month?’

Well, if myself is very confident person being, that question is really piece of cake to answer. But me? Well, yes, I had took English course with something in mind. A very ambitious and naive plan I had… cause I haven’t reach the half of minimal score. And my English is not really getting better… *scream*

But nevermind. I CAN.

*sigh* make yourself to be confident is kinda lame *sigh*

Oh, whatever. Let’s moving to next topic.

While I’m not finishing my post about “trip” in Europe, I’m already traveling again with my aunts and uncles to Batam… More homework to me, I guess.

Once, there’s a thought to make a YouTube channel about my traveling… But as I’m thinking more, it’s kinda impossible hard for me. I can’t do editing, moreover video. I don’t have many nor interesting video. And the important one, I’m not confident enough.

Yet. All of it with “yet”.

Oh, well, let’s done one by one. And now is finishing the traveling stories. Wohoo!

 

Regards,

Nona.

A Little Thing What I Felt about EU.

So, a few days ago… well not really, wow, this is Dec 13th, so this is exactly one month since my first amazingly trip to Europe!

So happy!

At first, I want directly write what I did, what I saw, what I felt in there. But, the way from Istanbul to Jakarta, my body get down. I felt sick. And then the jet lag. And the stress cause the long waited this trip (I wait almost one year for this) has ended and now–indirectly–my parents want me to really take the next step; get a job or continue my studies.

But, oh well, let’s we just get the little Europe stories!

November 13, 2016.

We depart from Jakarta, Indonesia to Schiphol, Amsterdam–through Istanbul, Turkey.

Well, I like everything matters related to aviation–including the airport. And Schiphol is really a big airport! Although I didn’t managed to take a look everything in there. Likewise Istanbul Ataturk Havalimani!

November 14, 2016.

We arrived at morning and we straight to Volendam, and we have brunch in there. And then back again to our hotel in Ibis, close to Schiphol… I know. Such a… Oh well. But that is at night we checked in.

Volendam is a small city in rim of Netherlands. In there we ate at small restaurant which the food is pretty nice for the first food I ate in there. Like a fish stew? Idk, but it nice.

((to be continued))